Senin, 18 Mei 2026

Imbas Dugaan Kasus Asusila, Plang Pesantren Milik Dai Kondang MSL di Sukabumi Dicopot Warga

Warga Kampung Cikondang, Cicantayan, Sukabumi, membongkar plang nama pesantren milik dai berinisial MSL pada Kamis (12/3/2026) malam.

Tayang:
Istimewa
Warga membongkar plang nama pondok pesantren milik keluarga dai kondang berinisial MSL di Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Kamis (12/3/2026) malam sekitar pukul 22.00 WIB. 

Ringkasan Berita:
  • Warga Kampung Cikondang, Cicantayan, Sukabumi, membongkar plang nama pesantren milik dai berinisial MSL pada Kamis (12/3/2026) malam. 
  • Aksi yang dipicu kekecewaan atas dugaan kasus asusila terhadap santri ini dilakukan untuk mencegah anarkisme pihak luar. 
  • Saat ini, keberadaan MSL yang sempat pamit umrah belum diketahui, sementara bangunan pesantren telah kosong karena santri dan keluarga pelaku sudah dipulangkan.

Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Dian Herdiansyah

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Aksi warga membongkar plang nama pondok pesantren milik keluarga dai kondang berinisial MSL di Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, viral di media sosial.

Peristiwa itu terjadi pada Kamis (12/3/2026) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Dalam video yang beredar, sejumlah warga terlihat menurunkan hingga memotong plang nama pesantren menggunakan mesin gerinda.

Ketua RT setempat, Iwan Setiawan (48), mengatakan pembongkaran plang tersebut merupakan hasil kesepakatan warga bersama para tokoh masyarakat setempat.

Ia menegaskan, langkah itu dilakukan bukan sebagai aksi anarkis, melainkan upaya mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

“Alasannya kami dari semua pihak, semua tokoh di Cikondang ini sebetulnya bukan anarkis. Justru kita mencegah dari oknum luar yang takutnya kalau misalkan pelaku masih terpampang, takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujar Iwan, Jumat (13/3/2026).

Selain itu, kata dia, lokasi plang tersebut rencananya juga akan dimanfaatkan sebagai akses jalan menuju tempat pemakaman umum (TPU) di kawasan tersebut.

“Kedua, nantinya akan dijadikan jalan menuju TPU karena ini memang jalur pemakaman juga. Oleh karena itu kami sepakat dengan semua tokoh warga Kampung Cikondang untuk membongkar gapura atau plang tersebut,” katanya.

Iwan mengungkapkan warga merasa sangat kecewa dengan dugaan kasus yang menyeret nama dai tersebut. Menurutnya, masyarakat setempat merasa nama baik lingkungan mereka ikut tercoreng.

“Tokoh-tokoh di sini sangat kecewa. Kok seorang ustaz atau dai sampai melakukan hal yang tidak senonoh,” ucapnya.

Ia menambahkan, warga berharap aparat penegak hukum segera menangkap MSL dan memproses kasus tersebut secara adil.

“Harapan warga pelaku segera ditangkap dan dihukum seadil-adilnya atas apa yang dia lakukan terhadap santri tersebut,” katanya.

Menurut Iwan, warga terakhir kali melihat MSL sebelum berangkat menunaikan ibadah umrah, sekitar satu hari sebelum memasuki bulan Ramadan. Sejak saat itu keberadaannya tidak diketahui.

“Pas mau berangkat umrah, satu hari sebelum puasa. Setelah itu belum ada kabar lagi dan orangnya juga tidak terlihat,” ujarnya.

Ia menyebut pondok pesantren tersebut berdiri sejak 17 Juli 2021. Kini kondisi bangunan terlihat kosong karena keluarga MSL sudah tidak lagi berada di lokasi.

Sementara itu, saat Tribunjabar.id mencoba melakukan konfirmasi ke lokasi pesantren, tidak ditemukan aktivitas apa pun. Warga menyebut para santri dan penghuni pesantren telah dipulangkan sejak kasus yang menyeret nama MSL ramai diperbincangkan.

Hingga kini pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan kasus tersebut.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved