Senin, 18 Mei 2026

Ramadhan 2026

Pesantren "Pengusir Setan" di Karawang: Dari Pengajian Kecil Hingga Riyadoh dan Rukyah Gratis

Ustaz Aa (44) mendirikan Pesantren Riyadhoh Daruttawabin Al-Jailani di Karawang yang menawarkan pendidikan agama, riyadoh, hingga rukyah.

Tayang:
Tribun Jabar/Cikwan
Pesantren Riyadhoh Daruttawabin Al-Jailani di Desa Bengle, Majalaya, Karawang, berdiri sebuah pesantren unik yang memadukan pendidikan agama dengan pengobatan spiritual dan rukyah. 

Ringkasan Berita:
  • Ustaz Aa (44) mendirikan Pesantren Riyadhoh Daruttawabin Al-Jailani di Karawang yang menawarkan pendidikan agama, riyadoh, hingga rukyah secara gratis. 
  • Berawal dari modal hasil berdagang kelontong dan skincare, pesantren ini kini memiliki unit khusus "Tim Pemburu Hantu" untuk membantu masyarakat. 
  • Selain pendidikan kitab kuning, pesantren di Desa Bengle ini juga menanggung kebutuhan makan seluruh santrinya tanpa biaya.

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Karawang, Cikwan Suwandi

KARAWANG, TRIBUNJABAR.ID - Di Desa Bengle, Majalaya, Karawang, berdiri sebuah pesantren unik yang memadukan pendidikan agama dengan pengobatan spiritual dan rukyah. Pesantren Riyadhoh Daruttawabin Al-Jailani ini menarik perhatian karena seluruh kegiatan yang diberikan kepada santri gratis, mulai dari pendidikan Al-Qur’an, kitab kuning, hingga riyadoh dan rukyah.

Pendiri pesantren, Muhammad Abdulloh Fahrurozi (44) atau akrab dipanggil Ustaz Aa, menuturkan bahwa awal mula berdirinya pondok ini bermula secara sederhana.

“Saya masuk ke Karawang tahun 2008, bersama istri membuka pengajian anak-anak di perumahan Citra Kebunmas. Dari tujuh anak, kini rumah itu penuh hingga ke jalan saat pengajian malam Jumat,” ujarnya, Jumat (13/3/2026).

Untuk mewujudkan impian membangun pesantren, Ustaz Aa dan istrinya sempat berdagang kelontongan, Tupperware, hingga skincare. Dari hasil usaha tersebut, mereka membeli tanah seluas 400 meter persegi pada tahun 2015 dan mulai pembangunan pondok pada 2017 dengan modal awal Rp7,5 juta rupiah.

“Sebelum pondasi dibuat pun, pengajian malam Jumat sudah berjalan di lahan hutan itu,” tambahnya. Pembangunan aktif berlangsung hingga 2018, dan sempat berhenti pada tahun 2022.

Nama pesantren memiliki makna mendalam. Diambil dari wasiat guru Ustaz Aa di Cirebon, awalnya diberi nama Darut Taibin, kemudian ditambahkan Al-Jailani karena tradisi dzikir manaqib Syekh Abdul Qadir Jaelani setiap malam Jumat. Nama ini menjadi simbol keberlanjutan ilmu dan spiritualitas dari guru ke murid.

Tiga Pilar Pendidikan Pesantren yang diajarkan di antaranya Tahfidz Al-Qur’an, dibimbing oleh Ustaz Bagus Naufal, Kitab kuning, diajar langsung oleh Ustaz Aa dan Riyadoh dan pendidikan spiritual, kegiatan utama yang berlangsung dari malam hingga subuh.

Ustaz Aa menekankan, riyadoh bukan sekadar ritual, tetapi bagian dari pengembangan spiritual santri. Santri bisa mengikuti paket riyadoh mulai dari 40 hari, 100 hari, hingga paket tahunan, semuanya tanpa biaya.

Selain pendidikan formal, pesantren ini memiliki praktek pengobatan dan rukyah gratis. Kegiatan ini rutin digelar setiap Rabu dan Ahad malam, bahkan melibatkan Tim Pemburu Hantu yang dibentuk Ustaz Aa sejak 2014. Pendekatan ini ditujukan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan perlindungan spiritual atau pengobatan alternatif.

“Semua santri boleh belajar, syaratnya hanya sudah lulus SD. Semua gratis, bahkan makan pun kami sediakan, termasuk beras untuk kebutuhan makan santri,” terang Ustaz Aa.

Dia juga menjelaskan untuk mengajarkan pengusiran hantu hanya dilakukan kepada murid-murid khusus yang terpilih.

"Memang muridnya khusus kalau ini, biasanya mereka yang percaya dan juga sebelumnya memiliki kemampuan untuk merasakan dimensi lain," kata dia.

Saat ini, ada sekitar 10 santri menetap di pesantren, sementara 20 lebih santri bolak-balik mengikuti pengajian malam Jumat.

Santri yang belajar di pesantren datang dari berbagai daerah, mulai dari sekitar CKM, Sabung, bahkan ada yang dari Padang. Kehidupan di pesantren tampak lebih ramai di malam hari, seiring dengan kegiatan riyadoh dan dzikir yang menjadi rutinitas utama.

Pesantren Riyadhoh Daruttawabin Al-Jailani kini menjadi simbol pendidikan spiritual yang terbuka bagi masyarakat luas. Pendekatan unik yang menggabungkan ilmu agama, rukyah, dan pelayanan sosial secara gratis menjadikan pesantren ini berbeda dari yang lain, sekaligus menjadi pusat bimbingan spiritual yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Karawang dan sekitarnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved