Dedi Mulyadi Kritik Tajam 4 Penyakit Warga Sunda, Ajak ‘Hudang’
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi kembali menjadi sorotan saat melontarkan kritikan tentang karakteristik dan 4 penyakit warga Sunda.
Penulis: Hilda Rubiah | Editor: Hilda Rubiah
Ringkasan Berita:
- Kritikan: Dedi Mulyadi menyoroti hambatan kemajuan warga Sunda yang ia sebut sebagai empat penyakit. Ia mendorong warga Sunda untuk tidak lagi "agul ku payung butut".
- Identitas: Gubernur menjelaskan alasan penggunaan kata "aing" yang membuatnya dijuluki "Bapak Aing" sebagai upaya meruntuhkan mentalitas menghamba dan menekankan kesetaraan.
- Filosofi Sunda dan Islam: Dedi Mulyadi menegaskan bahwa nilai-nilai Sunda sangat identik dengan ajaran Islam, terutama dalam hal tauhid melalui penjagaan alam.
TRIBUNJABAR.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi kembali menjadi sorotan saat menyoroti karakteristik orang Sunda.
Hal ini diungkapkan Dedi Mulyadi saat menghadiri acara Persatuan Ummat Islam (PUI) Jawa Barat di Balai Gede, Gedung Pakuan, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.
Dalam pidato Dedi Mulyadi membedah empat "penyakit" yang menurutnya sering menghambat kemajuan warga Sunda dan Jawa Barat.
4 Penyakit Warga Sunda
Ia menyebut keempat penyakit itu di antaranya sifat pundungan (mudah tersinggung), borangan (penakut), sulit bekerja sama, hingga kebiasaan melupakan kerabat saat sedang berkuasa.
"Orang Sunda kalau bertengkar bicaranya bisa satu jam, tapi tidak memukul-mukul, cuma bicara saja," ujar Dedi Mulyadi disambut tawa hadirin.
Baca juga: Gebrakan Dedi Mulyadi: Rencanakan Rekrutmen Besar-besaran Tamatan SD Jadi Tenaga Teknis Lapangan
Ia menekankan bahwa di tengah heterogenitas Jawa Barat saat ini, masyarakat Sunda sekadar bangga dengan masa lalu.
“Orang Sunda tidak boleh sombong dengan payung butut" (agul ku payung butut). Itu mah zaman Pajajaran. Sekarang kan sudah ada Majapahit, Sriwijaya, Makassar. Jadi syarat orang Sunda sekarang itu cuma satu, Harus bangga dengan "payung butut" itu (agul ku payung butut),” ujar Dedi Mulyadi.
Sebagai informasi, “agul ku payung butut" adalah salah satu peribahasa atau babasan dalam bahasa Sunda yang memiliki makna cukup mendalam mengenai sifat manusia.
Agul artinya bangga, pamer atau sombong, ku artinya oleh/dengan, payung artinya payung, butut artinya jelek, rusak atau rongsok.
Secara filosofis, peribahasa “agul ku payung butut" menggambarkan seseorang yang menyombongkan sesuatu yang sebenarnya tidak berharga, atau membanggakan kekayaan/kejayaan masa lalu (milik leluhur) padahal kondisi dirinya saat ini sedang susah atau tidak memiliki apa-apa.
Demikian Dedi Mulyadi menekankan agar warga Sunda tak boleh lagi berbangga diri atas sesuatu yang tak berarti.
Dedi Mulyadi menekankan warga Sunda harus berani bersaing dan "bertengkar" di tempat orang lain agar menjadi jagoan sejati.
Meskipun menunjukkan sisi damai orang Sunda, dalam konteks pidato tersebut Dedi Mulyadi juga mendorong agar orang Sunda tidak menjadi penakut (borangan) dan berani menunjukkan jati diri serta bersaing di luar daerahnya sendiri.
Dedi Mulyadi pun mencontohkan seringkali orang Sunda kalah debat dengan orang Batak, Makassar, Palembang, hingga Madura.
Salah satu kebiasaan orang Sunda menunjukkan rasa pribadi dengan sebutan ‘abdi’.
| Terobosan Baru KDM untuk Jabar: Pengajuan Renovasi Rumah Cukup Lewat Aplikasi Tanpa Sekat Politik |
|
|---|
| Dedi Mulyadi Sampaikan Belasungkawa Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon, Seorang Asal Cimahi |
|
|---|
| KDM Potong Jalur Panjang Pengajuan Program Renovasi Rumah, Bantuan Segera Bisa Diakses Online |
|
|---|
| Dedi Mulyadi Ucap Duka Gugurnya Prajurit TNI asal Cimahi Akibat Serangan Israel di Lebanon |
|
|---|
| Dedi Mulyadi Kritik Pembayaran Pajak Kendaraan Dinas Jabar Berbelit, Berikan Solusi Ini |
|
|---|
