Minggu, 10 Mei 2026

Bank Sampah Jalatrang Ciamis Ubah Sampah Jadi Rupiah

Deru mesin pencacah terdengar dari bangunan Bank Sampah Jalatrang Berseka di Dusun Babakan, Desa Jalatrang, Kecamatan Cipaku

Tayang:
Tribun Jabar/Ai Sani Nuraini
BANK SAMPAH - Proses pembuatan roster bangunan yang memanfaatkan sampah residu dicampur dengan semen, pasir, kalsium dan air yang dilakukan oleh pengelola Bank Sampah Jalatrang Berseka di Desa Jalatrang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Sabtu (9/5/2026). 
Ringkasan Berita:* Deru mesin pencacah terdengar dari bangunan Bank Sampah Jalatrang Berseka di Dusun Babakan, Desa Jalatrang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis pada Sabtu (9/5/2026)

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Deru mesin pencacah terdengar dari bangunan Bank Sampah Jalatrang Berseka di Dusun Babakan, Desa Jalatrang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis pada Sabtu (9/5/2026).

Di tempat itu, tumpukan sampah plastik residu yang sebelumnya dianggap tidak berguna perlahan berubah menjadi bahan baku roster bangunan bernilai ekonomis.

Tak lagi berakhir dibakar atau dibuang begitu saja, sampah residu kini dimanfaatkan menjadi produk ventilasi bangunan yang dipasarkan ke toko material hingga proyek pembangunan desa.

Di balik aktivitas pengelolaan sampah tersebut, puluhan warga ikut terlibat dalam sistem pengumpulan sampah berbasis lingkungan RT.

Bendahara Bank Sampah Jalatrang Berseka, Hari Ahmad Fauzi mengatakan, konsep Bank Sampah yang diterapkan saat ini menggunakan sistem tabungan sampah dari warga.

“Konsepnya itu menabung sampah dari warga lingkungan Desa Jalatrang,” ujarnya.

Untuk memudahkan pengumpulan, pihaknya membuat titik penyetoran sampah di setiap RT. 

Saat ini program tersebut baru difokuskan di Dusun Babakan yang terdiri dari tujuh RT.

Setiap pekan, warga menyetorkan sampah ke titik yang sudah ditentukan di lingkungannya masing-masing sebelum akhirnya diambil oleh petugas bank sampah setiap hari Sabtu.

“Nanti sampah dipilah dulu di tingkat RT, kemudian dipilah lagi di sini menjadi 103 jenis sampah yang sudah dikualifikasikan,” katanya.

Sampah yang masih memiliki nilai ekonomis selanjutnya dikirim dan bekerja sama dengan Bank Sampah Induk Ciamis. 

Sementara sampah residu atau sampah tertolak diolah kembali menjadi roster bangunan.

Di area produksi sederhana itu, sampah residu terlebih dahulu dipisahkan lalu dimasukkan ke mesin pencacah hingga menjadi serpihan kecil.

“Setelah dicacah, kemudian dicampur dengan pasir, semen, kalsium, dan cacahan sampah residunya itu sendiri,” jelas Hari.

Campuran tersebut lalu dimasukkan ke cetakan roster dengan empat motif berbeda yang sudah dikembangkan oleh pengelola.

Dalam sehari, Bank Sampah Jalatrang Berseka mampu memproduksi sekitar 50 hingga 100 roster.

Namun proses pembuatannya tidak bisa instan. Setelah dicetak, roster harus disimpan selama 12 hari tanpa dijemur di bawah panas matahari.

“Tidak boleh dipanaskan, cukup diangin-anginkan saja sambil disemprot air secara berkala,” katanya.

Setelah melalui proses pengeringan, roster siap dipasarkan ke sejumlah toko material di sekitar Desa Jalatrang dengan harga Rp10-15 ribu per buah.

Tak hanya dijual ke toko bangunan, roster hasil olahan sampah residu tersebut juga dipasarkan langsung ke proyek pembangunan di lingkungan desa.

Hari mengatakan, roster memiliki fungsi berbeda dengan batako. Produk tersebut digunakan sebagai ventilasi atau angin-angin bangunan.

Namun di balik fungsinya, roster buatan Bank Sampah Jalatrang Berseka memiliki nilai lebih karena dapat membantu mengurangi volume sampah residu yang sulit diolah.

“Kalau sampah residu ini kan bingung mau dikemanakan, dibakar tidak boleh, dibuang juga jadi beban. Nah, di sini bisa dimanfaatkan untuk pembuatan roster,” ujarnya.

Selain membantu penanggulangan sampah, keberadaan bank sampah juga mulai membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Saat ini, total sekitar 30 warga terlibat dalam operasional bank sampah, mulai dari petugas penyetoran di tingkat RT hingga pekerja pemilahan dan produksi roster.

“Harapannya dengan adanya mesin pencacah dan produksi roster ini bisa menumbuhkan ekonomi masyarakat sekitar dan membuka lapangan pekerjaan,” katanya.

Di tangan warga Desa Jalatrang, sampah yang selama ini dianggap masalah perlahan berubah menjadi sumber penghasilan sekaligus solusi menjaga lingkungan tetap bersih.(*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved