Kota Bandung Resmi Punya Tiga Nama Jalan Baru
Rekonsiliasi budaya pun dimulai oleh Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X. . .
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Fauzie Pradita Abbas
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhammad Syarif Abdu
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kota Bandung memiliki tiga nama jalan baru yang diresmikan melalui acara Harmoni Budaya Jawa Sunda yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Barat di depan Gedung Sate, Jumat (11/5/2018).
Ketiga nama jalan tersebut adalah Jalan Majapahit yang menggantikan Jalan Gasibu, Jalan Hayam Wuruk menggantikan nama Jalan Cimandiri, dan Jalan Citraresmi yang merupakan nama belakang Dyah Pitaloka, menggantikan nama Jalan Pusdai.
Peresmian nama jalan tersebut dihadiri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, dan Wakil Gubernur DI Yogyakarta KGPAA Paku Alam X.
Peresmian ketiga jalan ini adalah akhir rangkaian rekonsiliasi budaya Jawa dan Sunda melalui pertukaran nama jalan di DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Selama ini terdapat mitos yang menyatakan tidak ada nama jalan Siliwangi dan Pajajaran di Jawa Timur dan Yogyakarta.
Begitupun sebaliknya, tidak ada nama jalan Hayam Wuruk dan Majapahit di Jawa Barat.
Hal ini dipengaruhi pertentangan psikologis dan budaya antara Jawa dan Sunda melalui peristiwa perang Pasundan Bubat antara Kerajaan Majapahit dan Pajajaran, 661 tahun lalu.
Perang yang terjadi saat itu menggagalkan pernikahan antara Hayam Wuruk dari Majapahit dengan Dyah Pitaloka Citraresmi dari Pajajaran.
Rekonsiliasi budaya pun dimulai oleh Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X pada 2017 dengan meresmikan Jalan Pajajaran dan Jalan Prabu Siliwangi di Yogyakarta.
Disusul oleh Soekarwo yang meresmikan Jalan Sunda dan Jalan Prabu Siliwangi di Surabaya, mengingat Jalan Pajajaran sudah sejak lama ada di Surabaya.
"Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Hamengkubowono karena tanpa ada diskusi apapun, tiba-tiba dapat undangan untuk menghadiri acara peresmian Jalan Pajajaran dan Siliwangi di jantung Kota Yogyakarta," kata Ahmad Heryawan dalam acara tersebut.
Gubernur yang akrab disapa Aher ini mengatakan kejadian Perang Pasunda Bubat yang kemungkinan direka kembali oleh Belanda saat zaman penjajahan untuk memecah bangsa Sunda dan Jawa, jangan sampai menghalangi persatuan bangsa.
Benar atau tidaknya kejadian tersebut, katanya, harus dimaafkan.
Hal serupa dikatakan Soekarwo yang menyatakan perang 661 tahun lalu itu akhirnya bisa diselesaikan dengan cara yang terbaik melalui harmonisasi budaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/majapahit_20180511_111501.jpg)