Rabu, 8 April 2026

Feature

"Lebih Baik Jadi Kepala Ikan Teri daripada Ekor Ikan Hiu"

Kisah Kepala Sekolah yang Nyambi Jadi Perajin Kanvas

Oleh Syarif Abdussalam

CAHAYA matahari senja menyambut Dian Mardiana saat mengendarai sepeda motornya. Pria berumur 30 tahun ini baru saja pulang dari sekolah yang dikepalainya, yakni SMK Bina Wirausaha Garut.

SELASA (25/11), Dian hanya mengenakan seragam batik PGRI karena pagi harinya harus mengikuti upacara peringatan HUT PGRI di Alun-alun Garut. Di jok belakang motornya terdapat tumpukan kanvas lukis yang masih polos, diikat erat supaya tidak jatuh.
Dari Jalan Raya Tarogong, Dian membelokkan motornya ke Jalan Tanjungkamuning. Tidak jauh kemudian, dia membelokkan lagi motornya ke sebuah gang yang hanya cukup untuk dilalui motor.

Gang itu mengantarkannya ke halaman rumahnya yang sesak dengan batangan kayu alba, kain kanvas, dan potongan kayu yang dibentuk layaknya bingkai foto. Setelah menurunkan tumpukan kanvas dari motor ke teras rumah, ayah satu anak ini pun masuk untuk berganti baju. Tidak lama kemudian, dengan memakai kaus hitam, Dian kembali ke halaman rumahnya dan memotong batangan kayu alba.
Setelah memotong sesuai dengan ukurannya, Dian menghaluskan serat kayu tersebut. Kayu-kayu itu disambungkan sampai membentuk bingkai. Kertas kanvas putih langsung ditempelkan ke bingkai tersebut menggunakan stapler. Jadilah sebuah kanvas yang menjadi alat dasar untuk melukis.
Inilah profesi yang digeluti Dian, perajin kanvas lukis, selain mengepalai sebuah SMK dan menjadi guru. Profesi ini digelutinya untuk menambah penghasilan keluarganya. Maklum, gajinya sebagai kepala sekolah di SMK swasta belum cukup untuk memenuhi keperluan sehari-hari.

Kebanyakan posisi kepala sekolah di sejumlah sekolah negeri atau sekolah swasta terkenal di Garut selalu menjadi rebutan karena berbagai fasilitas dan gaji kepala sekolah yang menjanjikan. Namun, bagi seorang kepala sekolah sekaligus guru seperti Dian, jabatan kepala sekolah sekaligus guru merupakan tugas dan tanggung jawab tanpa pamrih.
Saat kepala sekolah atau guru lainnya menikmati siang atau sore bersantai bersama keluarga atau kerabat, Dian menghabiskan sore dan malamnya untuk membuat kanvas. Sore itu, dia dan dua pegawainya harus menyelesaikan pesanan 350 kanvas dari SMPN 1 Garut.
Sebuah kanvas dijual Rp 8.000. Dian meraup keuntungan sekitar 40 persen dari penjualan kanvasnya. Dian kerap kewalahan memenuhi pesanan sejumlah sekolah yang membutuhkan kanvas untuk kebutuhan mata pelajaran seni rupa. Sebab, setelah Dian bisa memproduksinya sendiri, banyak sekolah di Garut memesan kepadanya karena harganya jauh lebih murah daripada harga di galeri.
Meski demikian, Dian harus tetap fokus pada tugas utamanya, yakni sebagai guru mata pelajaran wirausaha serta agama, selain sebagai Kepala SMK Bina Wirausaha.

Dengan upayanya berwirausaha di bidang kerajinan kanvas, Dian sekaligus mengajarkan dan memberikan contoh kepada para pelajarnya untuk ikut berwirausaha. Jikapun harus menjadi pekerja di sebuah perusahaan, katanya, para pelajarnya harus memiliki target untuk berwirausaha.

"Lebih baik menjadi kepala ikan teri daripada jadi ekor ikan hiu. Lebih baik memimpin usaha yang kecil daripada menjadi bawahan di perusahaan besar. Itulah yang saya terapkan kepada para pelajar," kata Dian saat ditemui di rumahnya di Kampung Sindangsari, Desa Tanjungkamuning, Kecamatan Tarogongkaler, Selasa (25/11).

Dian mengatakan tidak pernah malu menggeluti dunia kerajinan pembuatan kanvas walaupun menjabat juga sebagai kepala SMK. Bahkan, Dian mengatakan berniat untuk mengembangkan usahanya dengan mengajak para siswanya menjadi bagian dari industri kerajinan kanvas di Garut, termasuk menambah bidang lain, seperti percetakan.

"Prospek bisnis pembuatan kanvas di Garut sangat cerah. Dalam dua minggu kami menyelesaikan pesanan 350 buah kanvas. Apalagi, kami memiliki link ke berbagai sekolah di Garut," kata Dian.
Matahari terus bergeser ke ufuk barat, ke balik Gunung Guntur. Dian segera menyelesaikan pekerjaannya di teras bersama seorang pegawainya. Mereka harus bekerja lembur sampai waktu isya untuk segera menyelesaikan pesanan 350 kanvas. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved