Minggu, 26 April 2026

Bandung 215 Tahun: Kolaborasi dan Teknologi Insinerator Jadi Kunci Hadapi 1.500 Ton Sampah Per Hari

Wakil Ketua DPRD Kota Bandung, Toni Wijaya menyebut, masalah sampah masih menjadi prioritas utama yang harus segera diselesaikan.

Tribun Jabar/ Hilman Kamaludin
TUMPUKAN SAMPAH - Kondisi tumpukan sampah di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa (16/9/2025) 

TRIBUNJABAR.ID - BANDUNG - Peringatan HUT ke‑215 Kota Bandung kembali menyoroti tantangan klasik yang sampai hari ini belum tuntas: persoalan sampah. Meski sejumlah langkah pengolahan telah berjalan, volume produksi tetap melampaui kapasitas pembuangan dan penanganan di lapangan.

Wakil Ketua DPRD Kota Bandung, Toni Wijaya menyebut, masalah sampah masih menjadi prioritas utama yang harus segera diselesaikan oleh Pemerintah Kota Bandung. Menurutnya, berbagai inovasi sudah memperlihatkan arah positif, namun dampaknya belum signifikan terhadap total sampah harian yang terus meningkat.

Data dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung mencatat, produksi sampah rata-rata mencapai 1.496 ton per hari, dengan frekuensi pengangkutan sekitar 262 rit truk. Dari jumlah itu, yang bisa dibuang ke TPA Sarimukti baru sekitar 799 ton per hari atau 140 rit, menyisakan 697 ton yang tidak terangkut setiap harinya.

Pemerintah Kota Bandung sebenarnya telah mengurangi beban sampah melalui proses pengolahan, yakni sebanyak 331 ton per hari. Namun, perhitungan terbaru menunjukkan masih ada 366 ton yang belum tertangani secara optimal.

“Penanganan sudah mengarah ke perbaikan, salah satunya dengan pemanfaatan insinerator. Tapi saat ini kapasitasnya masih kecil, sekitar 10 hingga 7 ton per batch pengolahan, dan pemerintah juga masih menemui kendala utama di aspek anggaran,” jelasnya saat ditemui di Balai Kota, Kamis (25/9/2025).

Ia menegaskan, Bandung membutuhkan dukungan lebih luas, terutama kolaborasi strategis dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Menurutnya, kerja sama lintas sektor dan lintas lembaga menjadi satu-satunya cara realistis untuk mengejar ketimpangan volume sampah yang dihasilkan setiap hari.

Toni menilai, penguatan teknologi seperti insinerator berkapasitas besar bisa menjadi solusi jangka panjang. Sejumlah negara pun telah berhasil menerapkan metode serupa dalam mengendalikan volume sampah perkotaan.

“Sampah ini tidak bisa diselesaikan sendirian. Harus ada sinergi dengan provinsi, komunitas, swasta, dan dukungan teknologi yang skalanya lebih besar. Kalau melihat praktik di luar negeri, insinerator bisa menjadi game changer jika dikelola dengan baik,” pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved