Menyulam Warisan Nano S, Menggugah Musik Sunda Lintas Generasi

Puluhan musisi muda dan maestro lintas generasi membawakan karya-karya Nano S.

Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
tribunjabar.id / Nappisah
Suasana penampilan Kalangkang Festival Tribute to Nano S. Hidupkan lagi spirit musik sang maestro di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Lampu-lampu sorot menari di atas panggung Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat. 

Nada-nada kawih tembang, degung, dan pop Sunda mengalun silih berganti. Setiap nada seakan memanggil kembali sosok yang menjadi alasan malam ini digelar: Nano Suratno, atau yang akrab dikenal sebagai Nano S, maestro musik Sunda dalam acara Kalangkang Festival 2025. 

Ary Heriyanto, Kepala UPTD Pusat Kebudayaan Daerah Jawa Barat (PKDJB), mengatakan, Kalangkang Fest bukan sekadar konser, melainkan sebuah misi kebudayaan.

“Beliau adalah maestro yang dimiliki Jawa Barat. Kontribusinya bukan hanya di sini, tapi juga sampai luar negeri,” ujar Ary, (6/8/2025) malam. 

Ia mengaku  bagian dari generasi 80-an yang tumbuh dengan karya Nano S.

“Lagu-lagu seperti Kalangkang, Bagja jeung Cinta, atau Guru itu sudah jadi bagian dari masa kecil saya.”

Namun Ary punya kekhawatiran. Generasi 90-an dan 2000-an, katanya, mungkin sudah jarang mendengar nama Nano S.

“Jadi, tentu kita tidak ingin generasi kita, generasi muda lebih mengenal karya-karya dari negara lain dibanding karya-karya dari negaranya sendiri. Nah, itu menjadi tugas kita bagaimana semangat dan perjuangan Nano S ini bisa diteruskan oleh generasi-generasi penerus," katanya. 

Di tempat yang sama, Nantia Rena Dewi Munggaran, putri pertama Nano S, mengapresiasi perhelatan Kalangkang Festival 2025. Terlebih, anak-anak Sang Maestro tak berkecimpung di dunia yang sama. 

“Kami sebenarnya sudah lama tidak aktif di dunia seni. Almarhum pernah bilang anak-anaknya tidak usah jadi seniman. Jadi kami memilih jalan masing-masing. Saya di Sastra Sunda, adik di akuntansi, yang bungsu sekarang kerja di Jepang.”

Meski begitu, ketika Taman Budaya mengusulkan resitalisasi karya Nano S., keluarga langsung setuju. Banyak murid Nano S. seperti Ida Rosida, Nenek Dinar, dan Ega Robot ikut terlibat. 

“Mereka murid langsung almarhum, jadi secara artistik mereka yang paling tepat menggarap ini. Kami dari pihak keluarga lebih menyerahkan pada yang ahli.”

Kalangkang Fest bukan ide yang lahir semalam. Tahun 2021, murid-murid Nano S. pernah berinisiatif membuat festival degung. Pandemi memaksa acara itu berpindah ke YouTube, dengan biaya patungan dan hadiah lomba dibeli dari kantong pribadi.

“Setelah itu, Taman Budaya menawarkan membuat pagelaran karya Bapak. Tapi karena keterbatasan biaya dan tenaga, baru bisa terlaksana sekarang,” kata Nantia. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved