Kamis, 11 Juni 2026

Perang Thailand dan Kamboja

Mengapa Terjadi Perang Thailand dan Kamboja dan Masalahnya Apa ? Ini Sejarah Panjangnya

Candi Preah Vihear adalah titik paling sensitif dari sengketa perbatasan antara Kamboja dan Thailand.

Tayang:
Penulis: ravi tribun | Editor: Ravianto
AKBAR PERMANA/Tribunnews
KONFLIK THAILAND KAMBOJA - Tentara Kamboja dilaporkan melepaskan tembakan ke pangkalan militer Thailand di provinsi timur laut Surin pada Kamis (24/7/2025) pagi. Tentara Kerajaan Thailand dalam keterangan persnya mengatakan roket Kamboja juga menghantam wilayah Si Sa Ket di Thailand, seperti diwartakan Bangkok Post. Baku tembak antara tentara Kamboja dan Thailand juga terjadi di enam lokasi sepanjang perbatasan dua negara. Menteri Kesehatan Thailand, Somsak Thepsuthin mengatakan 12 orang, termasuk 11 warga sipil, dan satu tentara tewas dalam penembakan artileri oleh pasukan Kamboja, Reuters melaporkan. Ia menambahkan bahwa 24 warga sipil dan tujuh personel militer terluka. Pertempuran antara militer Thailand dan militer Kamboja punya dampak multi-level, Indonesia punya modal mendamaikan. TRIBUNNEWS/SRIHANDRIATMO MALAU/AKBAR PERMANA 

Kata Pengamat ISESS

Pengamat militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi memandang pertempuran antara militer Thailand dan militer Kamboja yang meletus di perbatasan kedua negara pada Kamis (24/7/2025) kemarin memiliki dampak multi-level atau berlapis.

Pertama, kata dia, secara langsung konflik ini berdampak pada keamanan perbatasan dan keselamatan warga sipil. 

Hal tersebut, lanjutnya, terlihat dari adanya korban sipil dan pengungsian massal.

Menurut dia hal itu mengindikasikan eskalasi yang serius dalam konflik tersebut.

Kedua, menurutnya secara politik konflik itu memperlihatkan kegagapan ASEAN dalam merespons krisis internal. 

Hal itu, lanjutnya ditunjukkan dengan tidak ada pernyataan bersama dan tak ada langkah cepat untuk deeskalasi. 

"Ini menunjukkan bahwa prinsip-prinsip ASEAN seperti non-intervensi dan konsensus justru menjadi hambatan dalam menghadapi konflik sesama anggota," ungkap dia saat dihubungi Tribunnews.com pada Jumat (25/7/2025).

Ketiga, kata dia, konflik itu juga bisa mengganggu integrasi regional. 

Ia mencatat jalur darat utama yang menghubungkan Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam adalah bagian dari proyek konektivitas ASEAN yang lebih besar. 

Jika stabilitas terganggu, menurut dia, maka logistik, perdagangan lintas batas, hingga proyek infrastruktur bersama bisa terhambat.

"Ini tentu akan berdampak pada kepercayaan investor dan mitra luar kawasan terhadap ketahanan ASEAN sebagai entitas ekonomi dan politik," kata dia.

"Di tengah situasi ini, Indonesia perlu mempertimbangkan inisiatif," ungkapnya.

Ia mencatat Indonesia punya sejarah panjang sebagai penengah, baik saat memediasi konflik internal Kamboja melalui Jakarta Informal Meeting (JIM) di akhir 1980-an yang membuka jalan menuju Paris Peace Agreements 1991, maupun saat menjadi Ketua ASEAN pada 2011 ketika konflik perbatasan Thailand–Kamboja kembali memanas.

Pada 2011, kata dia, Indonesia tidak hanya mengeluarkan seruan damai, tetapi juga mengambil langkah konkret, melakukan shuttle diplomacy antara Bangkok dan Phnom Penh, memfasilitasi pertemuan Joint Border Committee, serta menginisiasi pembentukan Indonesian Observer Team (IOT) yang dikirim langsung ke area sengketa sebagai pemantau independen.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved