Minggu, 31 Mei 2026

Berita Viral

Tangis Pilu Bocah Manusia Silver Dimarahi Ibu Imbas Hasil Mengemis Kurang, Dinas PPPA Turun Tangan

Beredar sebuah video yang menunjukkan seorang anak manusia silver menangis tersedu di pinggir jalan karena dimarahi ibunya.

Tayang:
Dokumen Warga
MANUSIA SILVER -- Seorang anak yang dicat perak duduk menangis di pinggir jalan kawasan Kotabaru, OKU Timur, setelah dimarahi ibunya karena tidak mendapatkan uang, Kamis (17/07/2025). Dinas PPPA pun langsung turun tangan. 

TRIBUNJABAR.ID - Beredar sebuah video yang menunjukkan seorang anak manusia silver menangis tersedu di pinggir jalan karena dimarahi ibunya.

Momen itu terjadi di Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan (Sumsel).

Dalam video yang kini viral di media sosial itu tampak tubuh bocah tersebut dicat dengan warna perak.

Ia hanya bisa menangi dan terdiam menahan isak saat dimarahi karena tidak memawa cukup uang.

Kejadian itu pun langsung menyita perhatian Pemerintah kabupaten OKU Timur.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) OKU Timur pun langsung turun tangan ke lokasi memastikan kejadian sebenarnya.

"Kami tidak bisa diam. Begitu video itu viral dan disebut terjadi di wilayah OKU Timur, tim kami langsung turun ke lapangan," kata Plt. Kepala Dinas PPPA OKU Timur, Inoferwenti Intan, SE., MM., Kamis (17/07/2025), dikutip dari Tribun Sumsel.

Baca juga: Sosok Siti Fatimah, Ibu yang Dititipkan ke Panti Jompo oleh 4 Anaknya, Kini Ditawari Rumah Kontrakan

Ternyata, anak dan ibu yang viral tersebut bukan warga OKU Timur, mereka hanya singgah di wilayah tersebut untuk mengemis.

Kendati demikian, hal itu tidak mengurangi kepedulian Dinas PPPA.

Dinas PPPA melakukan pendekatan persuasif.

Kemudian, ibu bocah manusia silver tersebut pun mendapatkan peringatan keras atas perlakuannya terhadap anak i Bawah umur.

"Kami tekankan, tidak boleh ada bentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal. Apalagi ini dilakukan terhadap anak dan di ruang publik," tegas Inoferwenti.

Menurutnya, memaksa anak mengemis di jalanan, terlebih dalam kondisi tidak layak dan penuh tekanan emosional, jelas termasuk kategori eksploitasi anak.

Ia prihatin karena kondisi tersebut berlangsung di usia anak-anak yang semestinya berada dalam lingkungan belajar dan diasuh dengan baik.

"Seharusnya anak itu belajar di sekolah, bukan berada di jalan dengan tubuh dicat silver demi uang. Ini bentuk eksploitasi yang sangat disayangkan," tambahnya.

Baca juga: Sosok Dea Anak Nelayan Diterima ITB, Rumahnya Dipenuhi Piagam & Piala, Dosen Nangis Dengar Kisahnya

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved