Rabu, 13 Mei 2026

Warisan Arang dan Rasa Tak Tergantikan dari Banjaran Bandung, Kue Balok Ating Bertahan Sejak 1969

Di depan Pasar Sehat Banjaran, Desa Banjaran, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, aroma hangat kue balok begitu menggoda penciuman siapa pun.

Tayang:
Penulis: Adi Ramadhan Pratama | Editor: Giri
Tribun Jabar/Adi Ramadhan Pratama
KUE BALOK - Dinar Kamal (45), penjual kue balok Ating generasi ketiga di depan Pasar Sehat Banjaran, Desa Banjaran, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Sabtu (21/6/2025). 

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Adi Ramadhan Pratama 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di depan Pasar Sehat Banjaran, Desa Banjaran, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, aroma hangat kue balok begitu menggoda penciuman siapa pun yang melintas.

Di bawah naungan gerobak sederhana, Dinar Kamal (45) dengan cekatan menuangkan adonan kue balok ke dalam cetakan besi yang telah diletakkan di atas api yang menyala.

Sejak sinar matahari belum terlihat di langit Banjaran, dia sudah mulai bersiap dengan bahan-bahan, melanjutkan tradisi kuliner keluarganya yang sudah berjalan lebih dari setengah abad.

"Ini kue balok itu dari tahun 1969, jadi dari kakek pertamanya itu yang dagang. Jadi saya itu generasi ketiga atau cucunya yang nerusin jualan ini," ujar Dinar kepada Tribun Jabar, Sabtu (21/6/2025).

Kue balok memang bukan makanan baru di Jawa Barat. Tapi di Banjaran, nama 'kue balok Ating' punya makna yang lebih dalam. Bukan sekadar jajanan pasar, tapi penanda waktu dan simbol ketekunan.

Sejak 1969, kakek dari Dinar membuka lapak di tempat yang sama. Tidak pernah pindah, ataupun bergeser. Dinar bercerita, sejak awal kakeknya berjualan, kue balok yang dibuat masih sangat sederhana.

Cita rasa masa lalu itu kini hanya tinggal kenangan bagi yang sempat mencicipinya. Namun, bukan berarti Dinar hanya berdiam dalam romantisme yang sempat dibuat keluarganya terdahulu.

Baca juga: Wisata Alternatif di Pangandaran, Bukit Baruno Surga Tersembunyi Perpaduan Alam dan Kuliner Sunda

"Dulu itu masih polosan atau original gitu, belum ada rasanya (topping) seperti saat ini," katanya.

Dia tetap menjaga resep dasar warisan sang kakek, tapi mulai berinovasi pada sisi rasa. Kini, kue balok yang dia jual tak hanya tersedia dalam versi original, tetapi juga dengan berbagai topping.

"Kalau sekarang mah ada beberapa rasa ada yang rasa enten (gula merah+kelapa), terus rasa mentega, yang sama seres cokelat, terus yang original," ucapnya.

Meskipun berinovasi mengikuti masing-masing selera pengunjung yang lebih beragam. Dinar tetap mempertahankan cara memasaknya, tak berubah sedikit pun.

"Kalau zaman kakek itu, masaknya pakai arang. Nah sampai sekarang juga masaknya pakai arang, jadi ciri khas dari zaman kakek itu sampai sekarang masih dipertahankan," ujarnya.

Panas arang tidak hanya menyempurnakan kematangan adonan, tetapi juga menjaga rasa dan aroma khas yang tak bisa ditiru alat modern. Bara arang yang membara menjadi saksi bisu bagaimana resep ini diwariskan.

Baca juga: Menjajal Kuliner Streetfood Thailand, Mulai dari Somtam, Kiamboy, Hingga Longan Pandan

Walaupun telah melewati waktu lebih dari lima dekade, Dinar tetap menjual kue balok warisan sang kakek dengan harga yang relatif terjangkau. Satu potong kue balok yang dijualnya Rp 1.500.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved