Minggu, 31 Mei 2026

Isi Pidato Dedi Mulyadi di Hari Jadi Bogor ke-543, Bikin Tugu hingga Singgung Leluhur dan Kualat

Berikut inilah isi pidato Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi pada perayaan Hari Jadi Bogor atau HJB ke-543, Selasa (3/6/2025). Singgung leluhur

Tayang:
Editor: Hilda Rubiah
Tangkapan layar Kompas TV
PIDATO DEDI MULYADI - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat pidato di Hari Jadi Bogor ke-543, Selasa (3/6/2025). Singgung leluhur, kualat hingga pembuatan tugu 

TRIBUNJABAR.ID - Berikut inilah isi pidato Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi pada perayaan Hari Jadi Bogor atau HJB ke-543, Selasa (3/6/2025).

Momen HJB yang digelar paripurna di Gedung DPRD Kota Bogor yang turut dihadiri Kang Dedi Mulyadi (KDM) selaku Gubernur Jawa Baratl.

KDM sempat berpidato di hadapan orang-orang yang hadir hingga menimbulkan riuh.

Menggunakan Bahasa Sunda yang kental, Dedi Mulyadi menyampaikan beberapa pesan mendalam tentang Bogor.

Ia menyinggung tentang leluhur, peradaban Kerajaan Sunda Pajajaran hingga kualat.

Gubernur Jabar itu juga sempat menyinggung rencana pembangunan tugu setinggi Monas.

Baca juga: Reaksi Ono Surono Disindir Dedi Mulyadi di Hari Jadi Bogor, Kini Dukung Kebijakan Gubernur Jabar

Berikut ini beberapa poin isi pidato Dedi Mulyadi di Hari Jadi Bogor:

1. Hari Jadi Jabar

Dedi Mulyadi mengaku bahwa dirinya baru sadar bahwa banyak warga Jawa Barat lupa dengan asal muasal peradabannya.

Sehingga Hari Jadi Bogor ini seharusnya juga bisa disebut Hari Jadi Jawa Barat.

"Saya baru ngeuh, selama ini Jawa Barat berdiri rupanya lupa sama asalnya,
seharusnya ini bukan Hari Jadi Kabupaten Bogor, bukan Hari Jadi Kota Bogor, ini hari jadi Tatar Sunda, Hari Jadi Jawa Barat," kata Dedi.

"Hari jadi harusnya di sini awalnya, pertama tanah Sunda dibangun peradaban dimulai di sini. Meski ibu kota provinsi sudah ada di Bandung, tapi cikal bakal sejarah peradaban dimulainya di sini," imbuhnya.

2. Lupa Leluhur

Dedi meminta orang Sunda tidak takut menceritakan soal leluhurnya, karena leluhur Sunda punya peradaban, ilmu pengetahuan, keahlian dan pemahaman yang kaya.

"Kita hilang ciri hilang cara, kita lupa leluhur kita sendiri, leluhur orang dipuja-puja, leluhur sendiri dibilang musrik," kata Dedi Mulyadi.

Sumber: Tribun Bogor
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved