Hadapi Perang Tarif, Indonesia Bidik Pasar Eropa Lewat Rotterdam

Salah satu jalur strategis yang ditawarkan adalah melalui Belanda, khususnya Pelabuhan Rotterdam, pelabuhan terbesar di Eropa

thetanjungpuratimes.com
Ilustrasi ekspor impor. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perang tarif yang berkepanjangan, Indonesia mendorong pelaku usaha untuk melirik pasar Eropa sebagai alternatif ekspor. 

Salah satu jalur strategis yang ditawarkan adalah melalui Belanda, khususnya Pelabuhan Rotterdam, pelabuhan terbesar di Eropa yang menjadi pintu masuk utama barang ke kawasan tersebut.

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag menggarisbawahi pentingnya memanfaatkan potensi pasar Belanda, yang saat ini menjadi hub logistik utama di Eropa. 

Langkah ini sekaligus menjadi strategi untuk mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika Serikat.

“Upaya-upaya untuk memperluas pasar ekspor diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada pasar Amerika Serikat. Dalam kaitan ini, Belanda menjadi salah satu pasar yang kita sasar bersama,” ujar Ketua Dewan Direktur merangkap Plt. Direktur Eksekutif LPEI, Sukatmo Padmosukarso secara virtual, Sabtu (17/5/2025).

Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, H.E. Mayerfas, menekankan posisi Belanda sebagai mitra dagang strategis. 

Ia menyebut sekitar 80 persen ekspor Indonesia ke Eropa saat ini masuk melalui Pelabuhan Rotterdam. Tak hanya itu, ekspor Indonesia ke Belanda juga mencatat pertumbuhan dua digit pada 2024.

“Kolaborasi antara LPEI dan KBRI Den Haag diharapkan dapat memperkuat dukungan bagi eksportir untuk lebih berani melangkah ke pasar global, khususnya melalui Belanda sebagai gerbang Eropa,” kata Mayerfas.

Dari sisi produk, sejumlah komoditas unggulan seperti produk kimia, lemak dan minyak nabati/hewan, alas kaki, mesin dan perlengkapan elektronik dinilai punya potensi besar di pasar Belanda. 

Senior Economist LPEI, Donda Sarah Hutabarat, menjelaskan bahwa beberapa produk yang selama ini difokuskan ke pasar AS sebetulnya juga sangat relevan dengan kebutuhan konsumen di Eropa.

Selain itu, Belanda dinilai sebagai pasar yang stabil dan minim risiko. 

Permintaan domestik yang kuat, inflasi yang mulai melandai, kekuatan Euro, hingga peringkat kredit tertinggi (AAA) menjadi indikator utama yang mendukung kenyamanan berusaha di sana.

“Data tahun 2024 menunjukkan nilai ekspor Indonesia ke Belanda mencapai USD 4,71 miliar, naik 21,72% dibanding tahun sebelumnya. Komoditas penyumbang terbesar di antaranya: lemak dan minyak nabati/hewan, alas kaki, produk kimia, serta besi dan baja,” ujar Donda.

Namun demikian, Donda menegaskan untuk bisa masuk ke pasar Eropa memerlukan persiapan yang matang. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved