Kamis, 9 April 2026

Industri Otomotif Didesak Waspadai Lonjakan Mobil Asing

Gaikindo mengingatkan industri otomotif nasional untuk mewaspadai potensi lonjakan produk impor sebagai imbas dari kebijakan tarif impor AS

Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
ILUSTRASI - Pengunjung melihat kendaraan bermotor roda empat pada gelaran pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Bandung 2023 di Sudirman Grand Ballroom, Jalan Sudirman, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/11/2023). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), Yohannes Nangoi, mengingatkan industri otomotif nasional untuk mewaspadai potensi lonjakan produk impor sebagai imbas dari kebijakan tarif impor Amerika Serikat. 

Ia menyebut kondisi pasar domestik saat ini memang cenderung landai, namun tetap harus dijaga agar tidak terdisrupsi oleh limpahan produk otomotif asing.

“Kita harus waspadai banjirnya produk dari luar negeri, termasuk otomotif. Negara-negara yang terdampak tarif baru dari Presiden AS berpotensi mengalihkan ekspornya ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia,” ujar Nangoi dikutip dari keterangan resmi Gaikindo,  Jumat (16/5/2025). 

Baca juga: GIIAS di Bandung Resmi di Buka, Masyarakat dan Pecinta Otomotif Antusias

Menurutnya, lonjakan ekspor kendaraan dari negara-negara produsen besar yang kesulitan mengakses pasar AS bisa memotong peluang pasar domestik dan mengganggu ekosistem produksi lokal.

 “Ekspor kita dari Indonesia saat ini stabil. Tapi kalau pasar kita dipotong oleh produk luar, itu bisa sangat merugikan. Karena mereka kelebihan stok, sementara akses ke AS tertutup,” tegasnya.

Data GAIKINDO menunjukkan bahwa ekspor mobil dari Indonesia terus mencatatkan tren positif. 

Hingga Februari 2025, lanjut dia, ekspor kendaraan tercatat sebanyak 36.789 unit, naik 10,1 persen dibanding Januari (33.423 unit), dan tumbuh 5,5 persen dibanding Februari tahun lalu (34.871 unit). 

Menurutnya, kinerja ini menunjukkan bahwa pasar ekspor menjadi salah satu penopang utama bagi industri otomotif nasional di tengah pasar dalam negeri yang stagnan.

Pihaknya sendiri berharap pemerintah dan pelaku industri dapat berkoordinasi erat untuk menjaga daya saing produk otomotif nasional. 

“Oleh sebab itu, kita harus berhati-hati sekali di sini,” katanya. 

Salah satu produsen yang tetap agresif di pasar ekspor adalah PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI). 

Production Director HMMI, Wiranata Suganda, menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2024 pihaknya memproduksi sekitar 84 ribu unit kendaraan. 

Baca juga: Penuhi Kebutuhan Pecinta Otomotif, Bank Mandiri Relaunching Mandiri MyPertamina Card

Dia menuturkan, produksi ini relatif konsisten sejak pabrik Hyundai berdiri di Cikarang pada 2019 lalu.

“Untuk ekspor, kami fokus pada dua model utama, yakni Stargazer dan Creta. Mobil-mobil itu dikirim ke lebih dari 70 negara, termasuk Timur Tengah dan Meksiko,” ujar Wira.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved