Kamis, 9 April 2026

Pemprov Jabar Bidik Pasar Eropa untuk Ekspor Kriya

Industri kriya Jabar akan mulai menjajaki beberapa negara Eropa dan negara lain yang tergabung dalam BRICS untuk negara tujuan ekspor.

tribunjabar.id / Nazmi Abdurrahman
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani (kiri) bersama Ketua Dekranasda Jabar, Noneng Komara Nengsih (kanan), saat diwawancarai seusai pelantikan pengurus anyar Dekranasda periode 2025-2030 di Aula Dekranasda Jabar, Kota Bandung, Kamis (24/4/2025).  

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemprov Jabar membidik pasar Eropa dan negara-negara Brazil Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan yang tergabung dalam (BRICS) sebagai target ekspor kriya, setelah Amerika menerapkan tarif timbal balik (resiprokal) sebesar 32 persen.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani mengatakan, tarif yang mulai berlaku saat ini turut membuat ekspor beberapa sektor industri yang ada di Jabar turut terdampak, bahkan beberapa pelaku industri binaan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) pun ikut terpengaruh. 

"Ekspor kita itu berkaitan dengan tekstil. Tekstil ini termasuk dengan fashion gitu ya. Kemudian alas kaki, kemudian furniture, kemudian juga yang berkaitan dengan handicraft. Ini cukup banyak juga yang ke Amerika," ujar Nining, Kamis (25/4/2025). 

Industri kriya Jabar, kata dia, akan mulai menjajaki beberapa negara Eropa dan negara lain yang tergabung dalam BRICS untuk negara tujuan ekspor.

"Kami berusaha untuk membuka peluang pasar negara lain. Diversifikasi negara ekspor. Kami akan nanti bantu promosinya gitu ya, termasuk di Dekranasda nanti ini juga akan kita libatkan," katanya.

Di sisi lain, kata dia, Dekranasda memiliki banyak anggota dan produk termasuk kegiatan kerajinan sangat baik. Sehingga perlu didorong untuk pasar internasional lainnya, tidak hanya Amerika.

"Terus kemudian selain itu juga kita meningkatkan dari sisi produktivitas, kontinuitas, dan kualitas. Sehingga kemudian bisa berdaya yang saing. Kami mungkin juga akan melihat pangsa-pangsa di Eropa, kemudian Timur Tengah, dan juga di ASEAN," ucapnya.

Produk seperti kriya yang banyak dihasilkan oleh anggota-anggota Dekranasda ini tergolong unik. Nining meyakini bisa tembus ke beberapa negara lainnya, termasuk anggota BRICS yang kini Indonesia sudah masuk di dalamnya. 

"Nah kemungkinan akan menawarkan ke negara-negara BRICS ya termasuk, negara-negara BRICS itu masuk yang Rusia, China, kemudian sebagian Amerika Latin. Ini pasar prospektif juga, kayak Eropa Timur ini juga bagus," katanya.

Nining mengimbau agar para pelaku industri tidak perlu khawatir atas tarif resiprokal Amerika Serikat ini. Menurutnya, kebijakan tersebut justru membuat banyak inovasi dan keluar dari zona nyaman yang saat ini ketergantungan ekspor ke AS.

"Tidak perlu khawatir juga, malah mendorong kita untuk inovasi, kreativitas kita harus lebih tinggi gitu," ucapnya. 

Ketua Dekranasda Jabar, Noneng Komara Nengsih mengatakan, kebijakan Presiden Amerika Serikat ini berpotensi membuat perang tarif dan imbasnya mempengaruhi ekspor produk Jabar ke AS.

"Ya, itu yang tadi saya sampaikan juga, mungkin kan menjadi perang tarif. Ini luar biasa ya pengaruhnya, apalagi ekspor kita terbesarnya ke Amerika," ujar Noneng.

Dekranasda dipastikannya akan menyiapkan strategi guna menghadapi kondisi itu. Salah satunya termasuk perluasan kerja bidang kerja. 

"Tadi saya juga menyampaikan, bagaimana rencana kegiatan 2025-2030 yang tentu saja nanti adalah penambahan dan sebagainya di setiap bidangnya akan diskusi lagi dan ada pertemuan-pertemuan," katanya. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved