Harga Beras Tetap Tinggi Meski Panen Raya, Ada Apa?

Produksi beras Januari 2025 hanya 1,24 juta ton dan Februari 2,23 juta ton, padahal konsumsi beras nasional sekitar 2,6 juta ton per bulan

Penulis: Nappisah | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Jabar/ Nazmi Abdurrahman
Perum Bulog Kanwil Jawa Barat (Jabar) siap menyerap gabah beras petani lokal di seluruh daerah di wilayah Jabar, baik secara komersial maupun sesuai dengan harga pembelian pemerintah (HPP). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Target pemerintah untuk menyerap beras hasil produksi petani dalam negeri melalui Perum Bulog tahun 2025 sebesar 3 juta ton kini tengah berjalan. 

Menurut Khudori, pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), proses penyerapan itu menemui berbagai tantangan serius.

Per 20 April 2025, Bulog baru mampu menyerap 1,27 juta ton setara beras.

Baca juga: Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan Yakin Indonesia Tak Perlu Impor Beras sampai Tahun Depan

Dia menjelaskan, sebanyak 80 persen dari angka tersebut berbentuk gabah, sisanya berupa beras. Pola ini berkebalikan dari penyerapan puluhan tahun sebelumnya, yang didominasi oleh beras.

“Penyerapan mayoritas berbentuk gabah itu hanya bisa terjadi apabila Bulog memiliki 'kaki dan tangan' yang langsung berhubungan dengan petani,” jelas Khudori, Minggu (20/4/2025). 

Saat ini, lanjut Khudori, yang menjadi kaki dan tangan Bulog adalah aparat seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas di desa-desa. 

"Kehadiran mereka memperlancar hubungan antara petani dan Bulog, sehingga penyerapan gabah menjadi lebih efisien. Namun, efisiensi di lapangan tak selamanya bisa diikuti oleh kesiapan infrastruktur Bulog sendiri," jelasnya. 

Dia menuturkan, di sejumlah daerah, penyerapan bahkan sempat dihentikan karena keterbatasan kapasitas pengering (dryer).

Dampaknya pun meluas. Setidaknya lima pimpinan wilayah Bulog dicopot, diikuti beberapa kepala cabang, karena dinilai lamban menyerap gabah

“Ada tuduhan bahwa petani menunggu di sawah, tapi pegawai Bulog menanti di gudang,” ungkap Khudori

Seningga, kata Khudori, petani pun ikut merugi, sebab harga gabah di beberapa daerah turun di bawah ketentuan Rp6.500/kg, akibat penyerapan yang tersendat.

Baca juga: Anggota DPRD Jabar Sri Dewi Sidak ke Pasar Tagog Padalarang Jelang Idul Fitri, Harga Beras Naik!

Di sisi lain, stok beras di gudang Bulog menumpuk. Hingga 1 April 2025, jumlahnya mencapai 2,34 juta ton. Sebanyak 1,792 juta ton di antaranya merupakan sisa stok akhir tahun 2024 yang sebagian besar hasil impor. 

"Sekitar 436 ribu ton berusia 7–12 bulan, bahkan 55 ribu ton telah lebih dari setahun," imbuhnya. 

 Idealnya, menurut Khudori, beras hanya disimpan selama empat bulan untuk menjaga mutunya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved