Indeks Keyakinan Konsumen Turun pada Februari 2025, Pengamat Unpar Beberkan Alasannya

BI mencatatkan adanya peningkatan pada Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE), yang naik ke level 114,2.

|
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Tribun Jabar/Gani Kurniawan/Arsip
Warga belanja kebutuhan dapur pada gelaran Bazar Murah 2025 di Taman Nilem, Kelurahan Burangrang, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (19/2/2025). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bank Indonesia (BI) merilis hasil Survei Konsumen Bank Indonesia pada Februari 2025, yang menunjukkan penurunan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini. 

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resminya menyampaikan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2025 tercatat sebesar 126,4, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang berada di angka 127,2.

Meskipun demikian, BI mencatatkan adanya peningkatan pada Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE), yang naik ke level 114,2.

Peningkatan ini berasal dari dua faktor utama, yakni kenaikan pada Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (Durable Goods) dan Indeks Penghasilan Saat Ini. Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), yang menggambarkan harapan konsumen terhadap kondisi ekonomi dalam enam bulan ke depan, justru mengalami penurunan.

IEK turun ke angka 138,7, didorong oleh penurunan pada Indeks Ekspektasi Penghasilan, Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja, dan Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha.

Dalam analisis lebih lanjut, BI menyebutkan bahwa meskipun terdapat penurunan optimisme konsumen pada beberapa kelompok pengeluaran, ada kelompok pengeluaran Rp 3,1-4 juta yang masih menunjukkan peningkatan. 

Berdasarkan kelompok usia, keyakinan konsumen pada Februari 2025 tetap terpantau optimistis, terutama di kalangan usia 20-30 tahun, 31-40 tahun, dan 41-50 tahun. Dari sisi geografis, IKK juga meningkat di beberapa kota besar yang disurvei, dengan DKI Jakarta menjadi yang tertinggi, diikuti oleh Bandung dan Makassar.

Ekonom Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Aknolt Kristian Pakpahan, menilai penurunan keyakinan konsumen tidak terlepas dari berbagai faktor eksternal dan internal yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap perekonomian.

“Skandal mega-korupsi yang melibatkan perusahaan plat merah, seperti Pertamina dan PLN, serta penerapan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak dianggap efektif, turut memengaruhi pandangan konsumen," katanya, kepada Tribunjabar.id, Jumat (14/3/2025). 

Ditambah, kata dia, pengumuman operasional Danantara yang dianggap kurang meyakinkan, dan kondisi PHK yang terjadi di beberapa perusahaan, semuanya menciptakan ketidakpastian di kalangan masyarakat.

Dia juga menyoroti faktor eksternal, seperti kebijakan proteksionisme yang diusung oleh Donald Trump, yang diperkirakan akan berdampak negatif pada perekonomian global, termasuk kinerja industri ekspor Indonesia. Hal ini semakin memperburuk sentimen ekonomi yang ada.

Menanggapi hal tersebut, Aknolt mengingatkan bahwa pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat, perlu lebih proaktif dalam menjaga tingkat keyakinan konsumen agar ekonomi riil tetap berjalan lancar. 

"Pemerintah juga harus meyakinkan masyarakat bahwa perekonomian, meskipun dalam kondisi penuh tantangan, masih dapat dikelola dengan baik," katanya. 

Ia juga mengingatkan bahwa tren inflasi menjelang Hari Raya Idul Fitri dapat semakin memperburuk situasi, sehingga penting bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan barang.

"Ditengah kondisi seperti ini, pemerintah wajib meyakinkan masyarakat (konsumen) bahwa aktivitas ekonomi masih dalam kendali pemerintah (baik harga maupun ketersediaan barang)," kata Aknolt. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved