Mozaik Ramadhan

Ramadhan Ramah Anak

dalam semangat menjalankan ritual keagamaan yang menggebu, perhatian terhadap kebutuhan dan kondisi anak-anak kerap terabaikan.

|
Editor: Arief Permadi
MOZAIK RAMADHAN

Oleh: Dewi Mulyani, Dosen PG-PAUD TARBIYAH UNISBA, Ketua Majelis Pembinaan Kader Aisyiyah Jabar

RAMADHAN sebagai bulan penuh keberkahan dan pengampunan selalu menjadi momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia untuk meningkatkan kualitas ibadah serta mempererat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. 

Namun, acap kali dalam semangat menjalankan ritual keagamaan yang menggebu, perhatian terhadap kebutuhan dan kondisi anak-anak terabaikan.

Padahal sesungguhnya, bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dan ajaran agama kepada mereka dengan pendekatan yang ramah anak, lembut dan penuh kasih sayang.

Lantas, apa yang menjadi alasan Ramadhan yang ramah anak penting dilakukan? Sesungguhnya anak-anak memiliki kemampuan cara berpikir dan pemahaman yang jauh berbeda dengan orang dewasa.

Mendidik spiritual anak-anak memerlukan pendekatan yang penuh kelembutan, dan suasana yang menyenangkan.

Anak-anak selayaknya mendapatkan pembinaan dengan menumbuhkan kesadaran (mindful), mengenalkan makna (meaningful) dan menggembirakan (joyful).

Dengan demikian menenamkan konsep Ramadhan yang ramah anak melalui prinsip deep learning menjadi sangat penting dilakukan. 

Dalam sebuah hadis yang tercatat dalam Shahih Bukhari nomor 1960, Ar-Rubayyi' binti Mu'awwidz mengisahkan bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan cara mendidik anak berpuasa.

Beliau menyatakan, "Kami membiasakan diri berpuasa Asyura dan melatih anak-anak kami untuk ikut berpuasa. Kami membuatkan mereka mainan dari bulu domba. Ketika salah seorang dari mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan tersebut hingga waktu berbuka tiba."

Hadis ini mengandung pelajaran berharga yang sangat relevan dengan konsep Ramadhan ramah anak.

Pertama, hadis ini menunjukkan pentingnya menanamkan nilai-nilai agama sejak dini dengan membiasakan anak-anak berpuasa sejak usia muda.

Kedua, Rasulullah SAW mengajarkan pendekatan bertahap dalam melatih anak berpuasa, tidak dengan paksaan, melainkan memberikan kesempatan bagi mereka untuk beradaptasi dengan ritme ibadah ini.

Ketiga, penggunaan mainan sebagai pengalih perhatian menunjukkan metode pendidikan yang kreatif dan menyenangkan, sangat cocok untuk anak-anak yang sedang belajar berpuasa.

Keempat, hadis ini menekankan pentingnya kesabaran dalam menghadapi anak-anak yang mungkin rewel karena rasa lapar, sebuah pengingat bahwa belajar berpuasa adalah sebuah perjuangan yang patut diapresiasi dan dipahami sepenuhnya.

Ramadhan Ramah anak ini, menjadi krusial dilakukan dalam upaya pertama, membangun pengalaman Ramadhan yang positif dalam rangkan menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap agama Islam sejak dini.

Kedua, menumbuhkan karakter mulia seperti kesabaran, kejujuran, dan empati melalui aktivitas Ramadhan yang dirancang sesuai tumbuh kembang anak.

Ketiga, menyimpan kenangan indah dalam memori akan pengalaman Ramadhan yang berkesan dan menyenangkan yang tidak terlupakan bagi anak.

Upaya menciptakan Ramadhan yang ramah anak perlu keseriusan dengan beragam startegi, seperti, pertama, mengkomunikasikan ajaran dengan bahasa anak yang mudah dicerna terkait peribadatan seperti makna puasa, shalat, dan ibadah lainnya.

Kedua, melibatkan anak dalam kegiatan-kegiatan seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur'an, pembagian takjil, sedekah dan membayar zakat dengan menyesuaikan aktivitas dengan usia dan kemampuan mereka.

Ketiga, ciptakan suasana Ramadhan yang meriah, misalkan dengan dekorasi Ramadhan, lantunan lagu religi, atau kegiatan kreatif seperti pembuatan kartu ucapan Ramadhan dan hadiah Ramadhan.

Keempat, menjadi teladan yang baik, mengingat anak adalah peniru yang ulung yang belajar melalui eksplorasi dan observasi keseharian. Kelima, bertahap mengajarkan berpuasa dengan kelembutan, hindari memaksa anak-anak untuk berpuasa jika mereka belum siap.

Keenam, Ramadhan sebagai prime time, gerakan Ramadhan puasa gawai untuk meningkatkan interaksi berkualitas antara orang tua dan anak dalam menumbuhkan kelekatan.

Dalam rangka mewujudkan Ramadhan Ramah Anak ini peran orangtua sangat signifikan.

Adapun peran orang tua dalam hal ini adalah pertama, menekankan pentingnya orang tua menciptakan suasana Ramadhan yang menyenangkan dan penuh kasih sayang di rumah.

Kedua, memberikan tips tentang bagaimana orang tua dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anak selama Ramadhan.

Ketiga, mendorong orang tua untuk meluangkan waktu berkualitas bersama anak-anak selama Ramadhan.

Melalui hal-hal tersebut Ramadhan Ramah Anak akan terwujud dengan baik mengingat orangtua menjadi sosok penting dalam kehidupan anak.

Ramadhan sebagai momentum berharga dalam rangka melahirkan generasi Emas.

Melalui giat-giat baik pembinaan anak pada bulan Ramadhan ini sebagai upaya untuk mendapatkan generasi yang berakhlak mulia dan memiliki kecerdasan spiritual.

Melalui pendekatan yang ramah, penuh kasih, sarat akan makna ini, kita dapat menanamkan nilai-nilai luhur sebagai bekal masa depan mereka.

Orangtua dan guru, mari jadikan Ramadhan tahun ini sebagai Ramadhan Ramah Anak yang penuh kebahagiaan bagi seluruh keluarga. Semalat Ramdhan. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved