Senin, 27 April 2026

Imlek 2025

Wihara Tridharma Cianjur: Sejarah dan Tradisi yang Terjaga di Kota Santri

Keberadaannya menjadi simbol keberagaman budaya dan keyakinan yang hidup berdampingan di tengah masyarakat.

Penulis: Fauzi Noviandi | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
TribunJabar.ID / Fauzi Noviandi
MENYAMBUT IMLEK - Aktivitas di Wihara Tridharma Cianjur di Gang Duren, Jalan Hos Cokroaminoto, Kelurahan Solokpandan, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Rabu (29/1/2025). 

Laporan Kontributor Tribunjabar Kabupaten Cianjur, Fauzi Noviandi.

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - Di Kota Cianjur, yang dikenal sebagai Kota Santri, terdapat satu-satunya wihara dengan ajaran Tridharma, yaitu Wihara Tridharma Cianjur. Wihara ini terletak di Gang Duren, Jalan HOS Cokroaminoto, Kelurahan Solokpandan, Kecamatan Cianjur.

Keberadaannya menjadi simbol keberagaman budaya dan keyakinan yang hidup berdampingan di tengah masyarakat.

Awalnya, Wihara Tridharma berdiri di kawasan padat penduduk di sekitar Jalan KH Hasyim Ashari atau Warujajar pada tahun 1953. Saat itu, wihara ini didirikan atas inisiatif gabungan keluarga Tionghoa dari marga Sam, Kaw, dan Gwe yang telah lama bermukim di Cianjur secara turun-temurun.

Ketika pertama kali berdiri, wihara ini diberi nama Wihara Sam, Kaw, dan Gwe, sesuai dengan nama para penggagasnya. Wihara ini mencatat sekitar 30 umat sebagai penganut ajaran Tridharma pada masa awal pendiriannya.

Namun, pada tahun 1958, setelah lima tahun berdiri, wihara ini dipindahkan ke lokasi yang sekarang, di Gang Duren. Pada saat itulah nama wihara diubah menjadi Wihara Tridharma Cianjur.

Tedy Suherman, Dewan Pembina Wihara Tridharma, menjelaskan bahwa pemindahan ini dilakukan pada 8 Desember 1958. “Tepat pada 8 Desember 1958, Wihara Tridharma mulai dipindah ke Jalan HOS Cokroaminoto, Gang Duren. Nama wihara juga berubah dari Sam, Kaw, dan Gwe menjadi Wihara Tridharma Cianjur,” ujar Tedy.

Wihara ini digagas oleh Sim Hong Keng, seorang warga Tionghoa yang telah menetap di Cianjur secara turun-temurun.

Setelah Sim Hong Keng meninggal pada usia 77 tahun di tahun 1980, kepemimpinan wihara dilanjutkan oleh kedua anaknya, Candra Wirya dan Yan Mulyana. Hingga kini, wihara ini telah mengalami lima kali pergantian kepengurusan dan saat ini dipimpin oleh Tjung Piak Thu.

Setelah puluhan tahun berdiri, Wihara Tridharma Cianjur telah mencatat sekitar 300 umat Tionghoa yang beribadah di tempat ini. Pada malam menjelang Imlek, sekitar 150 umat hadir untuk beribadah, sementara sisanya biasanya datang keesokan harinya.

“Pada malam menjelang Imlek, tercatat hampir 150 umat yang beribadah, sedangkan sisanya datang keesokan hari. Totalnya ada sekitar 300 umat yang beribadah di wihara ini,” ungkap Tedy.

Tradisi sosial juga menjadi bagian penting dari aktivitas Wihara Tridharma. Setiap tahun menjelang Imlek, wihara ini rutin mengadakan tiga kali kegiatan bakti sosial. Aktivitas tersebut meliputi pemberian santunan sembako kepada kaum jompo di sekitar wihara, pembagian parcel menjelang Idulfitri, dan pembagian takjil selama bulan Ramadan.

“Sebelum Imlek, kami tiga kali melakukan bakti sosial, pertama untuk umat wihara, lalu kepada warga sekitar. Pada bulan puasa, kami membagikan takjil seminggu sekali kepada warga muslim,” jelas Tedy.

Perayaan Imlek tahun ini tidak berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Tedy menyampaikan rasa syukurnya karena Wihara Tridharma diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar.

“Bagi saya pribadi, Imlek kali ini adalah momen untuk menjaga tali persaudaraan dan kerukunan antarumat manusia. Kerukunan ini menjadi kunci untuk hidup aman dan sentosa,” tuturnya penuh harap.

Dengan usia yang telah mencapai lebih dari tujuh dekade, Wihara Tridharma Cianjur tetap menjadi saksi bisu perjalanan waktu sekaligus tempat ibadah yang menjaga tradisi serta nilai-nilai harmoni di tengah keberagaman masyarakat Cianjur.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved