Kisah Keluarga dari Sumedang Berjualan Bambu, Jalan Kaki Tempuh Puluhan Kilometer Puluhan Tahun
Tak ada yang terucap dari lisan Rosadi (33), Ozo (45) kakaknya, dan Nana (73) ayahnyam sebelum berangkat menjual bambu.
Penulis: Kiki Andriana | Editor: Januar Pribadi Hamel
Jika berangkat pukul 22.00 dari Pamulihan, sejam lebih kemudian mereka akan tiba di Tanjungsari untuk beristirahat sejenak. Mereka akan melanjutkan perjalanan dan beristirahat untuk terakhir kalinya di Jatinangor. Konvoi bambu ini akan tiba di Rancaekek biasanya pukul 04.00 subuh.
"Beli di orang, di kebun orang. Kalau ada rejekinya, alhamdulillah habis kalau tidak namanya juga jualan. Kalau tidak habis disimpan di depan kaum saja, tidak pernah ada yang mencuri," katanya.
Jalanan Menanjak, Berkelok, Menurun
Jalan yang ditempuh dari Pamulihan ke Rancakek via Jatinangor adalah jalan yang tidak enteng. Bukan jalan datar seperti di area pesisir, melainkan jalan menanjak, berkelok, dan menurun khas pegunungan.
Berjalan kaki sekitar 20 kilometer tanpa beban saja tentu melelahkan, ini dengan beban super berat yang mereka dorong di sepanjang rute itu, pastilah perjalanan bukan sembarangan orang bisa melakukannya.
Padahal, mobil pikap atau truk sudah banyak di zaman sekarang, tetapi mereka masih memilih berjalan kaki.
"Sudah bagiannya begini, bukan tidak banyak mobil, sudah terbiasa didorong ini. Ya untuk dipajang juga bambu di sana (dengan gerobak itu, bambu menjadi estetis untuk dijajakan)," kata Rosadi.
Rombongan konvoi bambu ini akan pulang pada siang harinya, atau sore harinya seusai berjualan. Namun, kadang pulang menjadi tidak tentu waktunya sesuai dengan habis-tidaknya bambu terjual.
Ajaib, keluarga ini bertahan puluhan tahun menempuh puluhan kilometer. Di kampungnya di Ciptasari, hanya keluarga ini yang bertahan sebagai penjual bambu dengan cara "ekstrem" ini.
"Di kampung saya, sekarang tidak ada lagi, tinggal keluarga saya saja, bertiga. Bambu dari Pamulihan. (Kalau jalan pegal?) Tetap saja pegal, tapi ya mencari nafkah untuk anak dan istri,"
"Anak sekarang (ada yang) SMP kelas 1," katanya seraya menyebut kalau bambunya habis segerobak, keuntungannya sekitar Rp150-200 ribu.
Di piggir Rosadi, duduk Ozo. Ozo tidak banyak bicara, dia konsentrasi penuh menikmati tembakaunya. Waktu ditanya berapa jumlah bambu yang dibawa, dia menjawab 21 batang, sama dengan isi gerobak lainnya.
"Saya sudah 30 tahun berjalan kaki jualan bambu, tapi sekarang ini dalam seminggu dua kali jualan saja. Di jalan tidak pernah ada yang malak. Aman saja," kata Ozo.
Jika tidak jualan, Ozo tidak melakukan pekerjaan lain. Dia tidak memilih profesi lain, karena merasa telah terbiasa dengan berjualan bambu dan merasa cukup dengan hasilnya.
Kadang-kadang istrinya mengomel soal penghasilannya, tetapi dia tidak gusar dengan omelan itu, sebab dia sadar bahwa mengomel bagian dari karakter perempuan yang menjadi istrinya itu.
"Alhamdullilah cukup untuk menghidupi keluarga. Ya namanya juga bibir perempuan, sering dijawab ya da kumaha kieu darmana, rejekinya begini, yang besar tidak ada yang penting halal," kata ayah anak satu ini.
Nana, yang paling senior di antara ketiga penjual bambu ini lebih sunyi lagi. Dia hanya tersenyum waktu ditanya apakah dengan umur 73 tahun dirinya masih kuat?
"Masih," katanya. (*)
Artikel TribunJabar.id lainnya bisa disimak di GoogleNews.
IKUTI CHANNEL WhatsApp TribunJabar.id untuk mendapatkan berita-berita terkini via WA: KLIK DI SINI
| Tabrakan Maut di Jalur Bandung-Sumedang: Pelajar Pengendara RX King Tewas, Santri Dirawat |
|
|---|
| Identitas Korban Kecelakaan Maut di Pamulihan Sumedang, Pengendara RX King Pelajar SMK Yadika |
|
|---|
| Kecelakaan di Pamulihan Sumedang: Pelajar Pengendara RX King Tewas, 1 Santri Terluka |
|
|---|
| Copet HP Bobotoh Saat Konvoi Persib di Jatinangor Dibekuk, Pelukan Jadi Modus Pelaku |
|
|---|
| Bupati Dony Minta Pelaku UMKM Sumedang Berani Bermimpi Besar: Jangan Cepat Puas, Terus Naik Kelas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/menjual-bambu-ke-wilayah-Rancaekek-111.jpg)