Gencatan Senjata Israel-Hamas Ditunda: Benjamin Netanyahu Malah Minta Daftar Sandera
Penundaan ini disebabkan oleh permintaan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, agar Hamas menyerahkan daftar sandera yang akan dibebaskan.
TRIBUNJABAR.ID, GAZA - Rencana gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (19/1/2025) pagi terpaksa mengalami penundaan.
Penundaan ini disebabkan oleh permintaan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, agar Hamas menyerahkan daftar sandera yang akan dibebaskan pada hari itu.
Namun, Hamas menyatakan tidak dapat memenuhi permintaan tersebut karena alasan teknis.
Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa gencatan senjata baru akan dimulai setelah Hamas menyerahkan daftar tiga sandera yang dijanjikan untuk dibebaskan.
Di sisi lain, Hamas tetap berkomitmen terhadap kesepakatan gencatan senjata, meskipun mereka mengakui keterlambatan tersebut disebabkan oleh kendala teknis yang tidak dijelaskan lebih lanjut.
Menurut laporan Al Jazeera, gencatan senjata yang seharusnya berlaku pada pukul 08:30 waktu setempat (06:30 GMT) tertunda, menambah tekanan di Gaza.
Selama penundaan berlangsung, pasukan Israel melanjutkan serangan ke wilayah tersebut. Seorang juru bicara militer Israel menyatakan,
"Selama gencatan senjata tidak terwujud, Israel akan terus melakukan serangan," seperti dikutip dari CBC.
Dalam serangan udara terbaru di bagian timur Kota Gaza, tiga warga Palestina dilaporkan tewas. Militer Israel menyebut serangan itu menargetkan "militan" di wilayah Gaza utara dan tengah.
Sementara itu, serangan tambahan di Gaza utara menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai puluhan lainnya, menurut laporan dari badan pertahanan sipil Gaza.
"Tiga orang tewas di Gaza utara, lima lainnya di Kota Gaza, dan 25 orang terluka," ujar juru bicara badan tersebut, Mahmud Bassal.
Proses Negosiasi dan Tahapan Gencatan Senjata
Perjanjian gencatan senjata ini merupakan hasil dari negosiasi panjang yang melibatkan mediator internasional seperti Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat (AS).
Kesepakatan tersebut bertujuan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 15 bulan. Gencatan senjata dijadwalkan berlangsung dalam tiga tahap.
Pada tahap pertama, 33 sandera, yang terdiri dari wanita, anak-anak, dan pria yang sakit, akan dibebaskan dengan imbalan pembebasan hampir 2.000 tahanan Palestina, termasuk anggota kelompok militan.
| Sentimen Damai Timur Tengah: Membaca Arah Harga Emas Pasca Gencatan Senjata AS-Iran |
|
|---|
| Efek Gencatan Senjata Iran-AS, Pelabuhan Cirebon Hingga Pariwisata Jabar Berpotensi Terdongkrak |
|
|---|
| Gencatan Senjata AS-Iran, Pengamat Ekonomi Sebut Penurunan Harga Sejumlah Komoditas Tidak Instan |
|
|---|
| Trump Sepakati Gencatan Senjata Iran, Ketua DPRD Pangandaran Wanti-wanti Dampak BBM dan Pangan |
|
|---|
| Konflik Timur Tengah Berdampak pada Rute Haji, Pengamat Ungkap Rute Penerbangan yang Relatif Aman |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/warga-palestina-kembali-ke-gaza.jpg)