Sabtu, 2 Mei 2026

Kunker ke SMAN 1 Pangandaran, Anggota DPRD Jabar Diah Fitri Maryani Cek BPOPP dan PBKL

Anggota Komisi V DPRD Jabar, Diah Fitri Maryani melakukan kunjungan kerja (kunker) ke SMAN 1 Pangandaran untuk melihat kondisi pembelajaran

Tayang:
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Siti Fatimah
istimewa
Anggota Komisi V DPRD Jabar, Diah Fitri Maryani melakukan kunjungan kerja (kunker) ke SMAN 1 Pangandaran untuk melihat kondisi pembelajaran serta sarana dan prasarana di sekolah itu. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Anggota Komisi V DPRD Jabar, Diah Fitri Maryani melakukan kunjungan kerja (kunker) ke SMAN 1 Pangandaran untuk melihat kondisi pembelajaran serta sarana dan prasarana di sekolah itu.

Dalam kunker tersebut, Diah melihat penerapan Biaya Penunjang Operasional Penyelenggaraan Pendidikan (BPOPP) dan penerapan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL).

Diah mengatakan, selain melihat dan menanyakan soal penerapan BPOPP dan PBKL pihaknya juga melihat beberapa siswa yang berprestasi di berbagai bidang di SMAN 1 Pangandaran yang merupakan sekolah favorit itu.

"Saat kunker kemarin itu, saya tertarik dengan BPOPP karena ternyata turunnya tidak sesuai, dengan alasan efesiensi anggaran," ujarnya saat dihubungi, Kamis (19/12/2024).

Berdasarkan keterangan dari pihak sekolah, kata Diah, BPOPP tersebut belum mencukupi, tetapi kondisi ini memang tak hanya terjadi di sekolah-sekolah yang ada di Pangandaran saja, namun terjadi di UPTD perangkat kerja DPRD Jabar.

"Karena memang kan anggarannya juga terbatas pasca COVID-19, apalagi APBD-nya semakin menurun juga," kata Diah.

Kendati demikian, pihaknya melihat bahwa sarana dan prasarana di SMA 1 Pangandaran tersebut sudah cukup bagus terutama sanitasinya, sehingga sekolah tersebut memang layak disebut sebagai SMA favorit.

Kemudian yang kedua, di SMAN 1 Pangandaran juga PBKL-nya sudah berjalan karena di daerahnya banyak kekayaan hasil laut yang melimpah, sehingga beberapa siswa sudah memiliki penghasilan sendiri yang cukup besar.

"Bahkan mereka sempat menjadi juara dan siswa-siswa yang berpretasi itu sampai sekarang mendapatkan penghasilan. Ada yang Rp150 ribu sampai Rp300 ribu per hari karena ada pendidikan berbasis keunggulan lokal tersebut," ucapnya.

Atas hal tersebut, pihaknya berharap hal tersebut akan menjadi contoh atau barometer untuk sekolah-sekolah lain yang ada di wilayah Jawa Barat meski potensinya akan berbeda. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved