Siap-siap Banjir, Dini Hari Tadi Bandung Dihajar 2 Kali Hujan Deras, tapi Hari Ini Diprediksi Terang
Hujan deras itu terjadi pada pukul 00:15 WIB sementara hujan deras kedua dimulai pada sekitar pukul 03:10 WIB.
Penulis: ravi tribun | Editor: Ravianto
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Wilayah Bandung dihantam 2 kali hujan deras, Senin 9 Desember 2024 dini hari tadi.
Hujan deras itu terjadi pada pukul 00:15 WIB sementara hujan deras kedua dimulai pada sekitar pukul 03:10 WIB.
Guyuran hujan deras itu berlangsung sekitar satu jam sebelum reda dan diikuti oleh hujan deras kedua.
Hujan deras ini dikhawatirkan akan menyebabkan banjir di Bandung Selatan dan beberapa titik di Kota Bandung.
Meski demikian, belum terlihat laporan warga mengenai kondisi di wilayah mereka.
Sementara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika hari ini, Senin 9 Desember memprakirakan cuaca di Bandung dan sekitarnya akan cerah.
Baca juga: Wanita di Antapani yang Dikabarkan Diculik Akhirnya Pulang Diantar Ojeg dari Pasir Impun
Pagi ini cuaca berkisar pada suhu 22 derajat Celcius.
Suhu terpanas akan terjadi pada siang nanti dengan suhu berkisar pada 29 derajat Celcius.
BMKG memprakirakan tak ada hujan di wilayah Bandung dan sekitarnya di hari ini.
BMKG Peringatkan Ancaman Banjir di Bandung
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa potensi longsor dan banjir bandang masih dapat terjadi di Jawa Barat selama bulan Desember 2024.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa puncak musim hujan di wilayah ini diperkirakan terjadi pada bulan Desember untuk bagian selatan dan Januari 2025 untuk bagian utara Jawa Barat.
"Potensi longsor dan banjir bandang masih dapat terjadi selama bulan-bulan ini, di mana puncak musim hujan di Jawa Barat itu Desember di bagian Selatan dan Januari di bagian utara sehingga mohon diwaspadai,” kata Dwikorita dikutip dari laman BMKG, Minggu (8/12/2024).
Dwikorita mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di lokasi bencana Sukabumi baru-baru ini, untuk tetap waspada.
Dwikorita menyampaikan bahwa bencana yang terjadi di Kabupaten Sukabumi pada 4 Desember 2024 disebabkan oleh beberapa faktor atmosferik, di antaranya keberadaan bibit siklon 95W di Laut Natuna Utara dan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat daya Banten.
Fenomena ini menyebabkan peningkatan curah hujan yang intens dengan disertai angin kencang dan petir.
"Angin kencang, gelombang tinggi di laut, serta curah hujan lebat hingga sangat lebat yang disertai petir, meningkatkan potensi longsor dan banjir bandang," ujar Dwikorita.
Faktor Cuaca yang Meningkatkan Potensi Bencana
Pola belokan angin dan pertemuan angin di wilayah Jawa Barat turut memperparah situasi. Selain itu, gelombang kelvin yang aktif di perairan barat Pulau Jawa turut meningkatkan pembentukan awan, memicu hujan dengan intensitas tinggi sejak dini hari hingga siang hari.
BMKG juga mencatat adanya fenomena retakan tanah di pemukiman warga yang cukup parah, yang menyebabkan masyarakat harus mengungsi.
Retakan tanah ini terjadi akibat hujan lebat yang menyebabkan longsor, yang kemudian menutup lembah sungai dan membendung air. Ketika hujan terus-menerus dengan intensitas tinggi, bendungan ini bisa jebol, yang akhirnya memicu banjir bandang.
Dwikorita juga mengungkapkan bahwa BMKG melakukan tinjauan langsung ke lokasi bencana di Desa Sukamaju, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, untuk memantau kondisi di lapangan.
Selama tinjauan, BMKG mencatat bahwa gempa bumi dengan magnitudo lemah terjadi di wilayah Jawa Barat dalam 10 hari terakhir, yang dapat memperburuk risiko longsor, mengingat guncangan gempa dapat menggoyang tebing dan meningkatkan potensi longsor saat diguyur hujan.
Peringatan untuk Masyarakat di Selatan dan Utara Jawa Barat
Masyarakat di daerah yang berisiko, terutama di wilayah selatan dan utara Jawa Barat, diminta untuk tetap waspada.
BMKG memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dapat terjadi selama puncak musim hujan pada bulan Desember dan Januari mendatang.
Selain itu, BMKG juga mencatat kemunculan bibit siklon tropis 91S di Samudra Hindia yang diperkirakan akan memengaruhi cuaca di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat, Banten, dan Jabodetabek.
Siklon ini dapat menyebabkan hujan lebat disertai petir dan angin kencang, dengan gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter, terutama di kawasan Samudra Hindia dan perairan selatan Selat Sunda. Gelombang yang lebih tinggi, antara 2,5 hingga 4,0 meter, diperkirakan akan terjadi di perairan Bengkulu hingga Nusa Tenggara Timur.
"Bibit siklon 91S ini posisinya lebih dekat sehingga terus terang kami mengkhawatirkan itu makanya kami cek di lapangan. Biasanya yang terdampak duluan di Pelabuhan Ratu meningkatnya gelombang dan anginnya lebih kencang," ujarnya.
Dwikorita juga mengingatkan bahwa kecepatan angin di lapisan atmosfer yang lebih tinggi bisa mencapai hingga 35 knot (65 km/jam), yang menunjukkan potensi cuaca signifikan di wilayah sekitar, terutama di Pelabuhan Ratu yang kemungkinan akan terdampak lebih dulu.
Dengan memperhatikan kondisi cuaca yang semakin ekstrem, BMKG mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama di wilayah yang rawan bencana alam seperti longsor dan banjir bandang, serta memperhatikan peringatan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG.(*)
| Nilai Pasar Layvin Kurzawa Anjlok setelah Setengah Musim di Persib, Cedera jadi Penyebab |
|
|---|
| Persib Dikabarkan Deal 2 Tahun dengan Maxwell Souza, Persija Pilih Mariano Peralta sebagai Ganti |
|
|---|
| Bandara Husein Bakal Buka Lagi, Kadin Bandung Sebut Jadi Angin Segar Sektor Wisata hingga Kuliner |
|
|---|
| Sapi Kurban Ngamuk Juga Terjadi di Ledeng Bandung, 2 Warga Terluka, Sapi Akhirnya Ditembak |
|
|---|
| Tak Bisa Instan, Pengamat ITB Sebut Reaktivasi Bandara Husein Butuh Waktu untuk Pulihkan Pasar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/20241229_GANI_Banjir_Bojongsoang_05.jpg)