Sabtu, 18 April 2026

Mahasiswa Diminta Lebih Kritis Terhadap Ajakan Boikot Israel di Media Sosial

dalam Fatwa MUI tidak disebutkan kata-kata boikot, tapi ajakan mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina dari agresi Israel. 

istimewa
Cendekiawan Muslim Prof. Nadirsyah Hosen dari Monash University, Australia, saat menjadi narasumber seminar di Aula Fisip, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.  

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Mahasiswa sebagai kaum terpelajar harus kritis dan skeptis dalam menerima informasi, terutama yang berkaitan dengan ajakan boikot terhadap produk-produk yang disebut terafiliasi Israel melalui media sosial. 

Hal itu diungkapkan Cendekiawan Muslim Prof. Nadirsyah Hosen dari Monash University, Australia, saat menjadi narasumber seminar di Aula Fisip, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 

“Sebagai mahasiswa harus bersikap kritis dalam menyikapinya. Jangan hanya ikut-ikutan emosi dan larut dalam euforia untuk boikot saja,” ujar Nadirsyah, Jumat (6/12/2024).
 
Dikatakan Nadirsyah Hosen, dalam Fatwa MUI tidak disebutkan kata-kata boikot, tapi ajakan mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina dari agresi Israel. 

Menurutnya, dari hasil penelitian yang dilakukannya, ternyata siapa saja bisa memasukkan data produk dan alasannya di website-website yang membuat produk diduga terafiliasi Israel.

“Jadi, saat kita memasukkan nama sebuah produk, jika itu ada dalam daftar, ya jelas hasilnya juga menunjukkan bahwa produk itu terafiliasi Israel,” ucapnya.
 
Dia juga mempertanyakan pihak-pihak yang mengkategorikan produk itu terafiliasi Israel hanya karena produk itu dijual di sana. 

“Memang tidak boleh berbisnis di Israel? Kan belum tentu orang yang buka toko atau usaha di sana pasti mendukung atau setuju dengan agresi Israel?” katanya.
 
Nadirsyah Hosen pun meminta para mahasiswa lebih mengkritisi hal-hal seperti ini dan jangan malah masuk kepada euforia boikotnya.

“Kita tidak menolak untuk boikot asal memang itu benar-benar terafiliasi Israel. Tapi, jangan sampai karena kebencian terhadap satu produk malah merugikan bangsa sendiri,” ucapnya.
 
Sementara itu, Danu Durohman salah satu mahasiswa Fisip UIN mengaku tercerahkan dan harus melakukan verifikasi ulang terhadap setiap informasi yang ada di media sosial. 

“Saya baru tahu dari seminar ini bahwa itu ternyata itu belum terbukti kebenarannya dan perlu diklarifikasi lagi tentang kebenarannya,” ujar Danu. 
 
Ke depan, dia mengatakan akan mengubah cara pandangnya selama ini terkait produk-produk yang disebut-sebut terafiliasi dengan Israel. 

“Pandangan saya sebagai mahasiswa ke depan harus lebih teliti dan banyak belajar. Kalau ditarik ke kaidah unsur fiqih atau satu kaidah la yazidu, tidak ada kewenangan bagi seseorang untuk membenarkan tanpa ada tashawur atau penelitian terlebih dahulu,” tukasnya. 
 
Mahasiswa lainnya, Syah Reza juga menyampaikan hal yang sama. Sebagai mahasiswa, dia juga menyatakan akan bersikap lebih kritis lagi dalam melihat produk-produk yang selama ini disebut-sebut terafiliasi dengan Israel. 

“Jadi, harus diverifikasi kembali apakah informasi itu benar atau tidak. Artinya, yang diboikot itu memang Israelnya atau orang yang berjualan di sana," ujar Syah Reza.
 
Salsabila Fitriyani juga menyampaikan akan bersikap lebih selektif terkait ajakan boikot terhadap produk-produk yang disebut-sebut terafiliasi Israel.

"Bagus ya, dengan adanya penjelasan, jadi kita itu ternyata harus benar-benar selektif dalam memilih mana saja produk yang perlu diboikot. Selama ini saya kan taunya nama-nama produk yang diboikot itu hanya dari media sosial saja,” ujar Salsabila. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved