Bayar Parkir Pakai QRIS di Bandung Dinilai Tak Akan Efektif Genjot PAD Justru Hamburkan Anggaran

Pembayaran parkir on the street menggunakan barcode scan atau QRIS di Bandung dinilai tidak akan efektif untuk menaikkan pendapatan asli daerah (PAD).

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Giri
Istimewa
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yogi Suprayogi. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pembayaran parkir on the street menggunakan barcode scan atau QRIS di Bandung dinilai tidak akan efektif untuk menaikkan pendapatan asli daerah (PAD).

Bahkan, langkah itu diklaim cuma menghambur-hamburkan anggaran.

Penyebabnya, barcode scan tersebut rawan disalahgunakan oknum dan penerapannya hanya dilakukan di beberapa titik Kota Bandung, yakni Jalan ABC, Jalan Banceuy, Jalan Pacinan, dan Jalan Suniaraja.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yogi Suprayogi, menilai inovasi tersebut hanya jadi langkah desperate atau rasa putus asa dari Pemkot Bandung yang tidak bisa memanfaatkan mesin parkir dengan baik, sehingga ditambah dengan barcode scan atau QRIS.

"Ini kan kontradiktif ya, tapi di satu sisi ada target tadi PAD parkir harus digenjot. Tapi saya yakin enggak akan (efektif) karena itu kan hanya baru beberapa titik. Dan ini keputusasaan pemkot untuk meningkatkan pendapatan parkir," ujar Yogi, Kamis (10/10/2024).

Penggunaan QRIS itu, kata dia, hanya menghamburkan anggaran karena sudah ada mesin parkir. Seharusnya Pemkot Bandung melakukan kajian khusus untuk kembali menggunakan mesin parkir tanpa harus pakai QRIS.

Baca juga: Respons Jukir dan Pengendara Terkait Bayar Parkir Pakai QRIS di Bandung, Dibilang Bagus

"Jadi jangan gampang saja pakai QRIS. Saya yakin dengan QRIS ini enggak akan bener. Sekarang banyak terjadi QRIS-nya ternyata dipalsukan oknum. Jadi ini harus dicegah, penyelewengan itu bisa selalu terjadi," kata Yogi.

Atas hal tersebut, Yogi menyayangkan langkah Pemkot Bandung ini karena sudah ada metode pembayaran parkir yang lebih bagus yaitu dengan menggunakan mesin parkir.

"Kalau menurut saya ini sayang, QRIS bagus sih dari sisi metode, jadi banyak yang bisa digunakan. Tapi di satu sisi ada metode yang lebih bagus yaitu mesin parkir, lebih gagah dan cukup besar investasinya," ucapnya.

Seorang juru parkir di Jalan ABC, Kota Bandung, menunjukkan barcode untuk pembayaran nontunai, Kamis (10/10/2024).
Seorang juru parkir di Jalan ABC, Kota Bandung, menunjukkan barcode untuk pembayaran nontunai, Kamis (10/10/2024). (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Sebelum menerapkan inovasi ini, kata dia, seharusnya Pemkot Bandung mempertimbangkan apakah tetap pakai mesin parkir yang memang sudah ada atau menambah QRIS. Hal itu bisa dilihat setelah evaluasi apakah efesien atau tidak.

"Kalau menurut saya sih harus dipertimbangkan, tapi ini kan masih uji coba, belum full ya. Nanti akan dilihat apakah efisien atau tidak, tapi prediksi saya tidak akan efisien. Coba saja kan, katanya ribet, mending kalau ada internet, kalau enggak ada bagaimana, mending kalau ada uang," ujar Yogi.

Baca juga: Uji Coba Bayar Parkir Gunakan QRIS di Kota Bandung, Ribet tapi Aman dari Getok Parkir

Ia mengatakan, semua metode tersebut memang bisa digunakan untuk menaikkan pendapatan asli daerah tetapi pihaknya mengkritisi apple to apple antara mesin parkir dengan QRIS yang memang gampang dibuatnya.

"Nah ini harus hati-hati juga ketika dievaluasi kebijakan QRIS ini, apakah apple to apple kebijakan QRIS sekarang dengan kebijakan mesin parkir itu, dilihat bagusan yang mana," ucapnya.

Atas hal tersebut, pihaknya pun memberikan masukan kepada Pemkot Bandung, sebaiknya kawasan parkir ini dianalisis oleh akademisi terkait aspek-aspeknya, sehingga nanti bakal ada hasil pendekatannya harus seperti apa. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved