Jumat, 8 Mei 2026

Lulusan SD Mendominasi Pekerja di Jabar, Pj Gubernur: Anggapan Bekerja Lebih Penting dari Pendidikan

Data BPS mencatat, pekerja tamatan SD sebesar 35,51 persen, SMP 18,63 persen, SMA 18,54 dan SMK 15,51.

Tayang:
Tribun Jabar/Sidqi Al Ghifari
ILUSTRASI - Pekerja sebuah perusahaan yang tetap beroperasi di masa PPKM Darurat. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pekerja di Jawa Barat (Jabar) didominasi oleh lulusan sekolah dasar (SD). Hal itu diketahui berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar dari bulan Februari 2023-Februari 2024. 

Data BPS mencatat, pekerja tamatan SD sebesar 35,51 persen, SMP 18,63 persen, SMA 18,54 dan SMK 15,51. Sementara, lulusan Universitas hanya 9,15 persen, dan 2,66 pesen dari Diploma I-III. 

Pj Gubernur Jabar, Bey Triadi Machmudin mengatakan, salah satu penyebab tingginya angka pekerja lulusan SD, karena dibeberapa daerah masih ada anggapan bahwa bekerja lebih penting daripada pendidikan.

"Karena itu kan yang bahaya, kalau dibalikkan nggak usah sekolah tinggi-tinggi, bukan seperti itu. Tugas kami adalah mencari link and matchnya, industri lakukan itu, kami jajaki MoU dengan industri," ujar Bey, Rabu (25/9/2024). 

Saat ini, kata dia, banyak jenjang pendidikan di Jabar yang menyiapkan ke dunia kerja, salah satunya SMK. Ada beberapa sekolah menengah kejuruan yang berhasil membuat produk dan tembus ke pasar luar negeri.

"Saat ini sudah mulai banyak SMK yang menarik, memberi cara bekerja. Jadi, ada yang menciptakan mie instan di sekolahnya. Itu bahkan sampai eksport ke beberapa negara, itu mie instan korea, kelas medium," katanya.

Pemprov Jabar, kata dia, akan meminta para pelaku industri agar dapat meningkatkan kembali kerja sama denga SMK, hingga sekolah tinggi vokasi untuk berikan ruang magang, sehingga para lulusannya bisa langsung bekerja. 

"Iya kami minta pada industri, khususnya SMK, D3, perguruan tinggi vokasi lebih intens ditingkatkan, jadi mereka sudah siap kerja," ucapnya.

Bey menambahkan, Pemprov Jabar akan turut membuka sekolah tingkat lanjutan negeri yang baru. Mengingat saat ini ada juga masalah kurangnya sekolah negeri tingkat lanjut di beberapa kecamatan yang ada di Jabar. 

"Ada lagi masalah karena sekolah kurang SMP-SMA, jadi akan kerjasama dengan desa, memindahkan untuk jadi sekolah terbuka mungkin seperti itu," katanya.
 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved