Minggu, 12 April 2026

Piala Presiden 2024

Piala Presiden jadi Embrio Industri Sepak Bola Indonesia

Piala Presiden menjadi bukti bahwa sepak bola Indonesia dapat berjalan tanpa sepeser pun uang negara

Istimewa/ Pialapresiden.id
Ketua Steering Comite Piala Presiden, Maruarar Sirait saat memberikan sambutan. 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurrahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Piala Presiden menjadi bukti bahwa sepak bola Indonesia dapat berjalan tanpa sepeser pun uang negara, baik itu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ataupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sejak pertama digelar pada 2015, Ketua Steering Comite Piala Presiden, Maruarar Sirait berkomitmen untuk membangun ekosistem yang baik dalam industri sepakbola Tanah Air, dengan semangat transparansi agar mendapat kepercayaan dari sponsor.

Komitmen itu, dibuktikan dengan menggandeng lembaga auditor internasional Price Waterhouse Coopers (PWC) dalam setiap gelarannya, untuk mengaudit pengelolaan dana setelah turnamen selesai digelar, sebagai bagian dari transparansi keuangan.

"Piala Presiden adalah role model dalam transparansi. Nanti tidak ada uang negara. Baik itu dari BUMN, APBN maupun juga dari APBD. Tetapi semuanya dari sponsor. Dari swasta murni karena kita ingin membangun industri olahraga," ujar Maruarar dalam keterangan pers, dikutip Jumat (2/8/2024).

Ketua Steering Comite Piala Presiden, Maruarar Sirait saat memberikan sambutan.
Ketua Steering Comite Piala Presiden, Maruarar Sirait saat memberikan sambutan. (Istimewa/ Pialapresiden.id)

Pada 2015, dana yang terkumpul dari sponsor untuk Piala Presiden hanya Rp. 40 miliar. Tahun ini, dana dari sponsor yang mendukung turnamen pra-musim itu sudah mencapai Rp. 78 milliar. Semuanya, berasal dari swasta, tidak ada sepeser pun uang dari kas negara.

Dana yang terkumpul dari sponsor itu, kata dia, merupakan bukti bahwa pihak swasta percaya dengan sepakbola Indonesia yang dikelola secara transparan dan professional.

"Saya lapor Pak Presiden, visi dari Piala Presiden adalah transparansi. Semua aliran dana didiaudit, auditornya kelas dunia. Tidak boleh ada APBN, BUMN, dan harus dari swasta," katanya.

Dikatakan Maruarar Sirait, sebagai apresiasi atas dukungan para sponsor, hadiah utama untuk juara Piala Presiden 2024 pun dinaikan dari Rp 5 miliar menjadi Rp 5,25 miliar. Pun demikian untuk peringkat kedua, ketiga, dan keempat masing-masing akan mendapatkan Rp 2,75 miliar, Rp1,75 miliar, dan Rp1,25 miliar.

Pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Aknolt Kristian Pakpahan mengapresiasi pelibatan auditor eksternal pada Piala Presiden.

Pelibatan PWC, kata dia, dapat memastikan laporan keuangan seutuhnya bebas dari bias, sekaligus memberikan rasa aman bahwa penyelenggaraan Piala Presiden dijalankan dengan prinsip akuntabel dan transparan.

Dalam kacamata sponsor, kata dia, ada dua poin utama yang menjadi pertimbangan mereka mau memutarkan uangnya di olahraga sepakbola. Pertama kepercayaan, kedua dampak multiplier bagi perusahaannya.

"Pihak sponsor percaya dana yang mereka investasikan digunakan dengan baik, untuk kepentingan kegiatan sepakbola. Dalam artian, uang yang mereka tanamkan tidak digunakan untuk kepentingan-kepentingan lain selain kegiatan sepakbola," ujar Aknolt Kristian Pakpahan, saat dihubungi Kamis (1/8/2024).

"Hal ini bisa dibuktikan dengan pelibatan auditor dalam melakukan pemeriksaan kegiatan dan laporan keuangan," tambahnya.

Kedua, ada dampak multiplier. Dalam menginvestasikan uangnya, kata dia, pihak swasta harus berhitung apakah dana yang dikeluarkan memberikan dampak positif terhadap eksistensi perusahaan atau tidak.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved