Kamis, 7 Mei 2026

Khutbah Jumat

Materi Khubah Jumat, 3 Bekal Penting di Tahun Baru Hijriah, Muhasabah, Hijrah, dan Istikomah

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Khutbah Jumat.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Arief Permadi
ThePointNG
Ilustrasi - Materi Khubah Jumat, 3 Bekal Penting di Tahun Baru Hijriah, Muhazabah, Hijrah, dan Istikomah 

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ma’asyiral muslimin rakhimakumullah. Marilah kita beryukur, Allah lembutkan hati kita, ringankan langkah kita untuk beribah di Masjid As Shidiq.

Rasa syukur itu tidak hanya dilisan saja, tapi juga diwujudkan dalam semu aktivitas kita yang menyandarkan dan melibatkan Allah SWT, dan menjadikannya sebagai ibadah kepada Allah SWT.

Semoga setiap langkah kita sebagai penghapus doa. Semoga setiap duduk kita dalam salat Jumat ini mengangkat derajat kita.  Kita berdoa kepada Allah, semoga setelah salat Jumat ini, kehidupan kita ada perubahan yang nampak, keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT semakin meningkat.

Saat ini Tahun baru 1446 H. Pertanyaanya, apakah kehidupan kita di tahun ini ingin lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya? Tentu semua sepakat, ingin lebih baik.

Mengapa? Karena Rasulullah bersabda, artinya: "Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka." (HR Al Hakim)

Apa sikap berbaik utama, yang harus dihadirkan agar kehidupan kita di tahun ini lebih baik dan lebih bahagia dibandingkan dengan tahun sebelumnya?

PERTAMA, MUHASABAH

Pertama, muhasabah. Jadikan tahun baru ini untuk muhasabah. Muhasabah adalah artinya menghitung-hitung, menginstropeksi apa yang telah kita lakukan, di waktu kemarin untuk kebaikan yang akan datang.

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Surat Al-Hasyr 18)

Orang yang pandai bermuhasabah adalah yang menjadikan hari-harinya untuk perbaikan. Dia tahu, hidupnya tidak hanya untuk dunia saja, tapi juga untuk akhirat.

Kita tahu setidaknya manusia akan mengalami banyak kehidupan. Ada yang menyebut 12 tahapan kehidupan: alam ruh, alam rahim, alam dunia, alam kubur, alam kiamat, alam dibangkitkan dari kubur, alam dikumpulkan di padang masyar, alam ditimbangkan, alam dihitungkan, alam diberikan syafangat pertolongan, alam diperjalankan di sebuah jembatan. Terakhir, alam ditentukan akhiratnya, seseorang akan menjadi ahli surga atau menjadi ahli neraka.

Maka orang yang ber-mushasabah itu tahu, dunia bukan tempat untuk tinggal tapi tempat untuk meninggal. Hidup bukan untuk hidup, tapi hidup untuk yang Maha Hidup, beribadah kepada Allah SWT. Mati bukan akhir kehidupan, tapi awal kehidupan.

Jangan seperti orang-orang kafir atau orang yang ingkar kepada Allah SWT. Dia tak meyakini adanya kehidupan setelah kematian. Maka, kelak dia akan sangat menyesal. Ketika sudah berada di dalam neraka yang penuh dengan siksa, tak ada sedikitpun kesenangan, mereka menyampaikan penyesalannya, "sedandainya dahulu ketika di dunia beriman dan beramal saleh kepada Allah, maka tidak akan ada siksaan yang amat pedih."

Tapi semua penyesalan itu tidak berguna lagi. Allah SWT telah menetapkan ganjaran dan hukuman kepada setiap amalan yang dikerjakan manusia ketika di dunia.

Oleh karena itu, ketika mendapati tahun baru, maka dia ber-muhasabah. Dia lihat, dosa yang pernah dilakukan, dia lihat maksiat yang sering dilakukan, perintah Allah mana yang berlum ditunaikan. Maka, dia tidak akan sibuk dengan aib orang lain, karena aibnya banyak. Jauh kesombongan dari orang yang pandai ber-muhasabah.

Penting, jangan suka merasa saleh, harusnya merasa salah. Karena merasa saleh itu salah, merasa salah itu saleh.

KEDUA, HIJRAH
Hijrah ada 4 maknanya, melangkah, berpindah, berubah, meninggalkan.
Maka, orang yang ingin hidupnya lebih baik, maka ketika dia diizinkan bertemu dengan tahun baru, dia pasti berhijrah.

Melangkah menuju langkah yang lebih baik, dia berpindah dari keadaan yang buruk ke keadaan yang baik, dia berubah memperbaiki diri, yang sebelumnya tidak baik menjadi baik, yang sebelumnya tidak taat menjadi taat, yang sebelumnya bermaksiat, tinggalkan maksiatnya!

Mengapa? Karena dia takut kepada Allah SWT. Orang yang berhijrah akan memilih lebih baik kehilangan sesuatu karena Allah, daripada kehilangan Allah karena sesuatu. Karena orang yang berhijarah tahu, ketika dia meninggalkan yang haram, meninggalkan yang dilarang Allah, akan digantikan oleh ALlah dengan yang lebih baik.

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 218)

Siapapun yang saat ini sedang meninggalkan sesuatu yang buruk karena Allah, percayalah Allah sedang mencintaimu. Ketika engkau berani melangkahkan kaki pada satu kebaikan, Allah sedang mencintaimu.

Ingat, ketika Allah mencintai seorang hampa, tidak selalu menampkan dengan memberinya dunia, harta yang banyak, jabatan yang tinggi, derjat dunia yang seakan-akan membahagiakan, bukan.

Kalau semua itu menjadikan jadi jauh dari Allah, itu bukan tanda cintanya Allah SWT, justru Allah sedang murka.

Keadaan seperti itu kita kenal dengan istidjrat, yakni suatu keadan yang seolah-olah diangkat derajat, padahal itu jebakan yang menjadikan dia semakin jauh dari Allah SWT.

Tapi saat engkau makin dekat dengan Allah, taat pada Allah. Mungkin harta, jabatan, pangkat hilang. Tapi di saat yang bersamaan makin dekat dengan Allah, maka Allah sedang mencintaimu. Ayo hijrah, berubah.

Maka, yang sebelumnya pemarah jadi pemurah. Dia yang awalnya pengejek jadi pengajak, yang awalnya pelit, jadi dermawan. Dia yang awalnya pembenci jadi penyayang, yang awalnya tidak salat berjamah, ayo berubah. Yang awalnya tak mau sedekah, ayo berubah. Ini ciri dan tanda orang itu berhasil, sehingga dia layak mendapatkan kebaikan di tahun baru hijirah ini.

KETIGA, ISTIQAMAH
Apa itu istiqamah, berkelanjutan. Bahagia sekali orang yang istiqamah dalam hidupnya. Ketahuilah, setiap manusia itu rugi kecuali orang yang berilmu.

Semua orang yang berilmu itu rugi, kecuali orang yang beramal. Semua orang beramal itu rugi, kecuali yang ikhlas dalam amalnya, dan orang yang beramal dan ikhlas pun berpotensi rugi, kecuali orang yang istiqamah dalam amaliyah dan keikhlasannya.

Sampai kapan istiqamah? sampai husnul khatimah. Buah istiqamah adalah kebahagiaan, kelapangan, Allah SWT berfirman dalam Surat Fussilat Ayat 30.

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

Kalau ada pertanyaan, mengapa hidup terasa berat, kenapa masalah datang silih berganti, dan berat menjalani. Boleh jadi karena kita jauh dari Allah SWT. Tidak ada masalah besar selagi bersama dengan Allah yang maha besar. Yang jadi berat, karena kita jauh dari Allh SWT.

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bil huda wadinil haqq, liyudzhirahu ’aladdini kullihi, wakafa billahi syahiidaa. Asyhadu alla ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah. Allahumma shalli ’ala sayyidina muhammadin wa’ala alihi washahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Semoga awal tahun baru 1446 H ini, jadi awal perbaikan bagi kita.
Ingat tiga sikap terbaik menghadapi tahun baru agar hidup bahagia. Muhasabah, hijrah, istiqamah.

Muhasabah atas apa yang terjadi, hijrah untuk yang sedang dijalani, istiqamah berharap kebaikan atas apa yang sedang dijalani.

Jika kita berharap Allah SWT meberikan kasih sayang dan pertolongan, maka seharusnya harapan itu menjadi sebab bagi kita untuk taat dan patuh terhadap perintah Allah, dan meninggalkan semua apa yang dilarang-Nya.

Dengan demikian, Allah SWT memiliki alasan untuk ridha dan memberikan janjinya kepada hamba-hamba yang bertaqwa, yani pahala surga, yang didalamnya dipenuhi dengan kesenangan. Tak ada setitik pun kepedihan, seperti halnya yang dirasakan di kehidupan di dunia.

*) Sebagain materi disarikan dari ceramah Ustaz Hilman Fauzi.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved