Sabtu, 25 April 2026

Pilgub Jabar 2024

Pengamat Soal Pilgub Jabar, Peluang Koalisi Golkar dengan PDIP dan Gerindra Lebih Memungkinkan   

Dedi Kurnia Syah mengatakan komunikasi politik ini dinilai penting untuk mengusung calon gubernur dan wakil gubernur pada Pilgub Jabar 2024.

Istimewa
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah. 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) Jabar 2024 tinggal 206 hari lagi. Partai-partai politik di Jawa Barat pun tengah menjalin komunikasi dengan partai-partai lain, seperti yang dilakukan DPD PDI Perjuangan Jabar yang menyambangi DPD Partai Gerindra dan Partai Golkar dalam beberapa hari ini.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion, Dedi Kurnia Syah, mengatakan komunikasi politik ini dinilai penting untuk mengusung calon gubernur dan wakil gubernur pada Pilgub Jabar 2024.

Berdasarkan hasil sementara Pemilu 2024, di Jawa Barat tidak ada satupun partai yang memiliki tiket pengusungan gubernur dan wakilnya secara mandiri, alias harus berkoalisi.

Dedi pun mencermati bahwa di Jawa Barat, suara di Jawa Barat didominasi di antaranya oleh Partai Gerindra, Partai Golkar, dan PDI Perjuangan, selain PKS dan PKB.

Berdasarkan hasil Pemilu 2024 yang masih berproses di MK, sementara perolehan kursi di DPRD Jabar meliputi Gerindra 20 kursi, PKS 19 kursi, Golkar 19 kursi, PDI Perjuangan 17 kursi, PKB 15 kursi, Partai Demokrat 8 kursi, Nasdem 8 kursi, PAN 7 kursi, PPP 6 kursi, dan PSI 1 kursi.

Pengusungan satu pasangan gubernur dan wakil gubernur di Jabar dapat dilakukan dengan mengantongi minimal 20 persen kursi dari total 120 kursi di DPRD Jabar, yakni minimal 24 kursi. Karenanya, partai-partai ini harus berkoalisi untuk mengusung pasangan.

"Porsi pemilih di Jawa Barat juga dikuasai secara umum oleh PDIP dan Gerindra, sehingga pasangan Golkar-Gerindra atau Golkar-PDIP, jauh lebih mungkin dibanding Golkar-PAN," kata Dedi melalui ponsel, Minggu (5/5/2024).

Ia mengatakan sejauh ini nama yang kuat untuk diusung oleh Partai Golkar adalah Ridwan Kamil. Sedangkan nama terkuat dari Gerindra adalah Dedi Mulyadi dan dari PDIP adalah Ono Surono.

"Keterusungan Ridwan Kamil lebih mungkin terjadi jika koalisi dengan Gerindra dan PDIP. Tentu pilihannya Dedi Mulyadi atau Ono Surono, bagaimana pun di Gerindra dan PDIP tokoh menonjolnya terbatas, Gerindra hanya ada Dedi Mulyadi dan PDIP ada Ono Surono," katanya.

Mengenai peluang Ridwan Kamil dengan Bima Arya, ia mengatakan akan menghadapi tantangan besar. Sebab PAN sendiri tampak lebih mengunggulkan Desy Ratnasari.

"Peluang Ridwan Kamil - Bima Arya masih yang tersulit dibanding dengan pasangan lain. Bima Arya sendiri bukan tokoh unggulan di PAN.

"Dari sisi popularitas dan basis pemilih, PAN milik Desy Ratnasari tentu saja memiliki pesona keterusungan lebih besar dibanding Bima Arya," katanya. (*)
 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved