Selasa, 19 Mei 2026

Komunitas Perempuan Hawa Semesta Gelar Upacara Hari Kartini di Gunung Galunggung Tasikmalaya

Saat pagi tiba, Minggu (21/4/2024), para perempuan tersebut segera bersolek untuk menggelar upacara peringatan Hari Kartini.

Tayang:
Penulis: Aldi M Perdana | Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar/Aldi M Perdana
Suasana upacara peringatan Hari Kartini oleh komunitas Hawa Semesta di Bukit Nangreu, Gunung Galunggung, Minggu (21/4/2024). 

TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Komunitas perempuan dari berbagai kalangan di Tasikmalaya yang menamakan diri Hawa Semesta menggelar acara Kemah Puan sebagai kegiatan peringatan Hari Kartini di Bukit Nangreu, Gunung Galunggung, Sabtu (20/4/2024) dan Minggu (21/4/2024).

Mereka bahkan bermalam dan menggelar kegiatan kemping di sana sambil berbincang ria bersama-sama.

Saat pagi tiba, Minggu (21/4/2024), para perempuan tersebut segera bersolek untuk menggelar upacara peringatan Hari Kartini dengan suasana pegunungan khas Galunggung.

Sebanyak 39 peserta perempuan mengikuti kegiatan tersebut.

Mereka datang dari berbagai profesi dan kalangan, seperti ibu rumah tangga, aktivis, guru, seniman, dan budayawan.

“Sosok Ibu RA Kartini ini adalah pembuka jalan emansipasi bagi perempuan. Beliau membuka peluang pendidikan bagi kaum perempuan di Indonesia sehingga kami sekarang bisa setara, sama, dan sejajar dengan kaum Adam. Pendidikan kami tidak terbatas lagi,” ungkap Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Tasikmalaya, Eva Arifah, Minggu (21/4/2024).

Hal senada diungkapkan oleh Direktur Taman Jingga, Ipa Zumrotul Falihah.

“Lemah sebenarnya bukan karena perempuan diciptakan oleh Tuhan lemah, tetapi karena dikonstruk, ada suatu pengasuhan, budaya, yang melemahkan perempuan. Budaya itu sampai saat ini masih ada,” ujar Ipa.

Ipa menilai, semua perempuan memiliki kesempatan yang sama lantaran hal tersebut menunjukkan bahwa kaum hawa tidak menjadi objek, melainkan subjek.

“Perempuan bisa menjadi pengambil keputusan, berkontribusi menjadi kepala daerah, anggota dewan, dokter, atau apa pun itu," paparnya.

Karena itu, kata Ipa, ketika seorang perempuan melihat perempuan lain sukses, jangan merasa iri dan dengki.

"Tapi didoakan, supaya perempuan yang lain juga bisa menjadi role model berikutnya,” kata dia.

Secara terpisah, pendiri Hawa Semesta, Ria Arista Budhiarti, mengatakan, tujuan acara Kemah Puan ini bukan sekadar upacara peringatan Hari Kartini.

"Guru SD di Kota Tasikmalaya itu ingin membuka mata dan telinga bahwa kaum hawa tidak sekadar urusan domestik dan lemah."

"Bukan berarti kami tidak butuh laki-laki. Perempuan itu adalah lehernya, ketika patah, tidak bisa 'menoleh'."

"Ini berawal dari kegelisahan para ibu yang kesehariannya disibukkan dengan domestifikasi, yakni sumur, dapur, dan kasur,” ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved