Senin, 18 Mei 2026

Joko Suranto Crazy Rich Grobogan Komentari 2 Crazy Rich Terlibat Korupsi Timah Rp 270 T

Ramai fenomena crazy rich yang sempat ditangkap,  yang terbaru kasus korupsi timah Rp 271 triliun melibatkan crazy rich Helena Lim dan Harvey Moeis.

Tayang:
Tribun Jabar/Nandri Prilatama
Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI), Joko Suranto 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ramai fenomena crazy rich yang sempat ditangkap,  yang terbaru kasus korupsi timah Rp 271 triliun melibatkan crazy rich Helena Lim dan Harvey Moeis. Fenomena ini memantik tanggapan salah seorang pengusaha yang kerap disebut crazy rich Grobogan, Joko Suranto.


Menurut Joko, fenomena tersebut tak terlalu membuatnya khawatir. Secara pribadi, dia bekerja dalam bisnis dan kelembagaan yang jelas, serta hasil barangnya pun jelas tidak menggunakan anggaran APBN atau APBD.


"Kami merasa prihatin atas tindak korupsi yang merugikan negara Rp 271 triliun. Tapi, saya tak terlalu khawatir meski terkadang disebut crazy rich yang bisa memantik sorotan publik, yang terpenting kita selalu berada di jalan dan tindakan yang benar dan memberikan banyak manfaat bagi orang banyak," katanya di Jalan Cilaki, Senin (1/4/2024).


Joko Suranto menambahkan, pada 2022, dia sempat deg-degan alias khawatir ketika para orang kaya alias crazy rich, semisal Dony Salmanan hingga Indra Kenz ditangkap lantaran bermasalah secara hukum, namun untuk tahun ini yang melibatkan para crazy rich lainnya tak terlalu membuatnya khawatir.

Baca juga: Harvey Moeis Berpeluang Dimiskinkan oleh Kejagung, Bakal Dijerat TPPU


"Insya Allah selama ini, apapun transaksinya selalu terukur secara wajar dan ditelusuri orang pajak. Kami meyakini tak mengerjakan hal-hal yang bersumber dari APBD, APBN atau berhubungan dengan BUMD, bahkan BUMN yang mengemplang ke kami. Jadi, kami enggak perlu takut untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan berbuat baik sepanjang yang kami berikan hasil rejeki yang didapatkan secara benar," ujarnya.


Selain itu, Joko berpesan kepada setiap orang agar tak perlu menampakkan kemewahan dan sebagainya, jika hanya membuat orang-orang menjadi memiliki niat negatif.


"Ya tentunya ada label yang seringkali disematkan, semisal crazy rich selalu menjadi sorotan di profil perpajakan, begitu yang pernah saya rasakan. Tapi, akhirnya justru saya dijadikan wajib pajak teladan. Intinya, mari harus dapat bermanfaat dan memberikan sesuatu kepada sesama," katanya.


Joko Suranto menyebut, setiap manusia tentu ada keinginan dalam dirinya. Namun, dia  memagari diri untuk selalu bersyukur atas apa yang telah didapatkan.


"Ya Alhamdulillah bagi saya dengan selalu melihat ke bawah dan jalan ke kampung-kampung membuat saya bersyukur atas nikmat yang didapat selama ini dan cukup. Tak perlu yang wow, wah, atau apapun. Kami pun mendidik di internal perusahaan lewat family gathering dengan memberikan fasilitas mencukupi ke para karyawan dan memperhatikan keluarganya, agar mereka pun menyadari apa yang sudah diberikan perusahaan sudahlah cukup," katanya.(*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved