Pemuda ICMI Jabar Soroti Pentingnya Peradaban Bermoral

Peradaban hanya akan konstruktif jika didasari dengan etika dan moral, sehingga Pemuda ICMI harus bergerak berlandaskan hal tersebut.

Editor: Siti Fatimah
istimewa
Kegiatan Ramadhan Leadership Camp 1445 H di Gedung Pasca Sarjana Unisba, Ahad (31/3/2024).  

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Peradaban hanya akan konstruktif jika didasari dengan etika dan moral, sehingga Pemuda ICMI harus bergerak berlandaskan hal tersebut.

Demikian dikatakan Prof Muhammad Najib, Ketua DPP ICMI, dalam Ramadhan Leadership Camp 1445 H di Gedung Pasca Sarjana Unisba, Ahad (31/3/2024). 

"Secara konsep, sebuah peradaban atau hadoroh, madani akan tercipta ketika iptek tumbuh selaras dengan ekonomi dan militer. Namun jika ini semua tak didasari moral, maka akan menghancurkan seperti terjadi pada teknologi nuklir," katanya. 

Baca juga: Dompet Dhuafa, ICMI & MUI Bagikan 2,5 Ton Beras untuk 250 Guru Ngaji se-Denpasar

Sebagai bagian kaderisasi ruh organisasi, selepas acara tersebut, peserta yang mayoritas pengurus akan menjalani pelantikan. 

Najib menjelaskan, nuklir yang ada sekarang diciptakan malah sebagai senjata pemusnah massal sekalipun hasil iptek dan militer tinggi hasil pertumbuhan ekonomi. 

Maka itu, kata dia, tidak bisa peradaban dibangun hasil dari ketiadaan etika.

Termasuk di Indonesia yang sebenarnya sejak lama dibangun berbasis peradaban moral nilai-nilai Islami. 

Abdullah Hehahamua, Tokoh Senior Aktivis Islam, menyebutkan, ICMI dahulu sangat diapresiasi Gus Dur sekalipun dari awal Gus Dur menentang eksistensi ICMI. 

"Gus Dur menyampaikan bahwa Pak Habibie bersama ICMI berhasil membawa Islam dari pinggiran ke tengah. Itu langsung disampaikan Gus Dur  ke Pak Habibie setelah di malam hari setelah Gur Dur dilantik sebagai Presiden" sambungnya. 

Padahal dari era orde lama, orde baru sampai 1998, posisi aktivis Islam relatif tidak strategis.

Sekalipun akar sejarah dan pendirian bangsa sangat banyak bergantung pada ajaran dan pemikiran Islam. 

Bang Dulloh, sapaannya, menjelaskan, kata kunci membangun peradaban konstruktif sekarang adalah justru bagaimana meng-Islamkan orang Islam.

Sebab, betapa banyak nilai-nilai Islami justru tidak diterapkan sehingga tak bisa bangun peradaban konstruktif. 

"Kesalahan ini mengikuti kesalahan saat pendirian bangsa. Ketika aktivis Islam sudah merumuskan bentuk bangsa, mereka lalu kembali ke pondok pesantren lagi dan membiarkan kekuasaan diambil orang lain sehingga bentuk negara kian tidak karuan," katanya. 

Sodik Mudjahid, Pimpinan Darul Hikam dan Anggota DPR-RI, menjelaskan, Pemuda ICMI harus mampu memimpin gerakan ummat secara cerdas. 

Baca juga: Erick Thohir Kolaborasi Bersama ICMI Tumbuhkan Ekonomi Syariah Indonesia

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved