Kamis, 28 Mei 2026

Hikmah Ramadhan

Ramadhan Momentum Kembali

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai oleh-Nya...

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Arief Permadi
ISTIMEWA
Masrudi, S.Kom.I., M.Sos, Pengajar di UPT Pusat Pengembangan Bahasa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon 

Oleh Masrudi, S.Kom.I., M.Sos.
Pengajar di UPT Pusat Pengembangan Bahasa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya untuk pertama kali diturunkan Al-Qur'an pada lailatul qadar, yaitu malam kemuliaan, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang salah. (QS Al-Baqarah: 185)

Salah satu nikmat terbesar setelah iman ialah dipertemukannya kita dengan bulan Ramadhan. Bagaimana tidak, Ramadhan merupakan bulan istimewa dimana Allah SWT menurunkan kitab-kitab kepada para kekasih-Nya agar menjadi petunjuk sekalian umat manusia. Sejarah mencatat, lembaran (suhuf) Ibrahim as, Taurat Musa as, Zabur Daud as, Injil Isa as, dan tentu saja Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Agung Muhammad saw turun di bulan mulia ini. Karena itu, patutlah kita katakan bila Ramadhan ialah bulan Al-Qur'an.

Al-Qur'an sebagai mukjizat terbesar sang nabi akhir zaman mewariskan hùdan (petunjuk) bagi umat manusia secara keseluruhan. Sebagaimana pengutusan Rasulullah saw yang terabadikan dalam Al-Qur'an :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS Saba : 28)

Keberadaan Nabi Muhammad saw sebagai nabi akhir, tiada nabi lagi setelah beliau, meniscayakan sifat ajaran Islam yang universal. Ajaran yang shàlih li kulli zamàn wa makàn, senantiasa bersesuaian bagi pelbagai masa dan keadaan. Inilah ajaran yang tidak akan usang atau bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan. Spirit ajaran Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan seperti persatuan, keadilan sosial, kehidupan yang beradab, musyawarah mufakat, serta kesamaan di muka hukum (equality before the law) jauh hari di awal kelahiran negara ini telah diukir para pendiri bangsa sebagai dasar negara bernama Pancasila. Konsep universalitas Islam inilah yang hingga kini menjiwai dan menjadi pegangan hidup berbangsa dan bernegara.

Menilik keterkaitan ruh ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dengan konsep negara bangsa ini menjadi menarik ketika bertemu dengan fakta sejarah bahwa Ramadhan menjadi momentum awal nuzul-nya Al-Qur'an :

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam al-Qadar. (QS Al-Qadr : 1)

Penafsir senior Quraish Shihab dalam karya tafsir masterpiece-nya mengungkapkan bila ayat di atas mengandung uraian tentang masa turunnya Al-Qur'an pertama kali ketika Jibril mewahyukan permulaan Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad saw pada malam al-Qadr. Sedangkan malam al-Qadr sendiri memang hanya terjadi pada bulan Ramadhan, sebagaimana dinyatakan dalam pembuka tulisan ini yang menyatakan bahwa Al-Qur'an turun pada bulan suci nan mulia ini.

Adapun, masih menurut Quraish Shihab, penggunaan dlàmir (kata ganti ه) انزلناه alih-alih penyebutan kata القرأن secara langsung dalam ayat tersebut merupakan bentuk pengagungan kalam Allah swt yang mengisyaratkan bahwa Al-Qur'an selalu hadir dalam hati serta pikiran pembacanya.

Nilai historis Ramadhan inilah seyogyanya menjadi pengingat akan langkah yang tak boleh tidak kecuali hanya menuju kepada-Nya. Setiap pemikiran, perbuatan, dan penyikapan atas segala sesuatu ditujukan hanya untuk mendatangkan ridha dan perkenan Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam.

Ramadhan menjadi titik balik kembali pada-Nya. Dalam terminologi Islam, keinginan yang disertai perbuatan kembali ke jalan Tuhan ini disebut sebagai taubat. Sehingga kehadiran Ramadhan sangat tepat dimaknai sebagai hadiah terbesar bagi seorang hamba mukmin dari Tuhannya. Kita seolah disambut dalam rengkuh dekapan Al-Rahîm, Tuhan Maha Baik, untuk pulang ke rumah-Nya. Berpulang dalam ridha, ampunan, dan kasih sayang-Nya.

Kesadaran akan berpulang sebagai tahapan hidup yang niscaya inilah yang akan melecut seorang hamba agar berlaku saleh sepanjang usia tersisa. Ketika kesadaran ini hadir, maka segala perintah Tuhan akan dimaknai sebagai kehormatan baginya. Bersukacita dalam ibadah, berlama-lama dalam tadabbur, merasai lezatnya tilawat Al-Qur'an, sibuk dalam syukur, tabah dalam sabar, optimistis dalam menjalani amanah hidup hingga tiba pengujung tugas di dunia.

يٰۤاَيَّتُهَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَٮِٕنَّةُ ٢٧ ارۡجِعِىۡۤ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةً ۚ‏ ٢٨ فَادۡخُلِىۡ فِىۡ عِبٰدِىۙ‏ ٢٩ وَادۡخُلِىۡ جَنَّتِى‏ ٣٠

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai oleh-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS Al-Fajr : 27-30)

Menempuh jalan Tuhan tentu tidak akan mudah. Sebagaimana pula harga surga sebagai tempat tinggal abadi penuh kenikmatan yang tidak murah. Jalan itu penuh rintang ujian, kesungguhan dalam taat, keteguhan menjauhi maksiat, dan tetap menjadi bulir-bulir embun bening yang menyejukkan di tengah masyarakat. Menjadi diri mukmin yang menebarkan manfaat, adil dalam memimpin, hikmah dalam memutuskan, serta menjadi pemersatu hati manusia. Inilah jejak karakter profetik sang Nabi mulia yang Allah swt tetapkan sebagai role model, uswah hasànah, teladan bagi seluruh umatnya. Umat yang ia cintai hingga penghujung nafasnya.

"Umatku, umatku... ", begitulah kata-kata terakhir sang Nabi agung dalam deru nafas yang kian menghilang.

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS At-Taubah : 128)

Sebagai kalam akhir, kembali ke jalan Tuhan ialah kembali kepada Al-Qur'an. Kembali menggali spirit mulia di dalamnya. Terus menata diri agar pantas dalam pandangan-Nya. Menjalani sunnah Nabi-Nya dalam setiap gerak langkah. Hingga pada akhirnya kita dianugerahi gelar sebagai hamba bertakwa, sebagaimana tujuan perintah puasa.

Inilah muara penetapan Ramadhan bagi orang-orang beriman, di mana di dalamnya terdapat kewajiban berpuasa, yang juga telah dijadikan sebagai suatu kewajiban bagi umat-umat sebelumnya. Yaitu agar dengan berpuasa, seorang mukmin bertransformasi menjadi insan bertakwa yang kelak dipanggil dengan penuh kehormatan memasuki jannah-Nya.

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya."
(QS Az-Zumar ayat 73).

Semoga berkah Ramadhan terlimpah atas kita semua. Aamiin ya Rabbal'alamin.(*)

 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved