HIKMAH Ramadhan: Mensucikan Ruang Digital
Memberikan kebaikan sebenarnya menjadi hal biasa, tetapi di bulan Ramadan menjadi lebih luar biasa.
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - BULAN Ramadan menjadi sarana untuk mensucikan diri.
Maka al-Qur'an mengabarkan tentang output dari bulan ini yaitu ketaqwaan.
Berbeda dengan bukan-bulan lainnya, Ramadan memberikan fasilitas istimewa kepada siapa saja yang mau memanfaatkannya.
Dalam banyak keterangan, semua amal ibadah dilipatgandakan di bulan Ramadan. Bukan hanya yang wajib, seluruh ibadah sunnah akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Sebuah keuntungan yang hanya akan diperoleh di bulan ini, tidak di bulan-bulan lainnya.
Selain itu, seluruh amal sosial juga mendapat ruangnya yang sangat istimewa.
Memberikan kebaikan sebenarnya menjadi hal biasa, tetapi di bulan Ramadan menjadi lebih luar biasa.
Amal sosial ini menjadi penting, seperti halnya memberi makanan sedikit saja bagi orang yang akan berbuka puasa, pahalanya begitu besar. Maka tidak aneh jika pada bulan Ramadan semua orang berlomba memperbanyak amal baik kepada sesama manusia.
Pada saat yang sama, bulan Ramadan juga memberikan penekanan kepada umat Islam untuk senantiasa menghentikan segala perbuatan buruk. Kejahatan, kemaksiatan, dan perbuatan dosa lainnya hendaknya diberhentikan sama sekali. Umat Islam menjadikan Ramadan sebagai ruang di mana kita menghentikan segala ketidakbaikan, baik skala kecil maupun besar. Sebaliknya meningkatkan menebar kebaikan bagi semesta alam.
Ruang Digital
Di samping ibadah yang bersifat vertikal maupun horizontal, ada perilaku umat yang saat ini juga perlu menjadi sorotan pada bulan Ramadan yaitu aktivitas masyarakat di ruang digital. Dengan perkembangan teknologi informasi, perilaku masyarakat saat ini menjadi lebih nyata di ruang maya. Walaupun berbeda dengan ruang sosial nyata, namun ruang digital, di mana masyarakat kini hidup di dalamnya, semuanya menjadi penting untuk diperhatikan.
Di bulan Ramadan, apa yang disebut kebaikan dan kejahatan, memiliki kesempatan yang sama. Karenanya jika dalam kehidupan sosial kita begitu diharapkan berbuat kebaikan dan menjauhi kebatilan, maka hal yang sama pun sebenarnya harus berlaku di ruang digital.
Jika ruang sosial masyarakat menjadi lebih soleh, begitupun di ruang digital. Pun sebaliknya, jika di ruang sosial nyata kita menghentikan segala ketidak baikkan maka itu harus berlaku untuk ruang digital. Maka harus ada korelasi antara kehidupan sosial nyata dan ruang sosial maya dimana aktivitas digital itu dilaksanakan.
Kesalehan ini disebut juga sebagai kesalehan digital, yaitu perilaku umat yang mana pada bulan Ramadan harus semakin meningkatkan konten positif dan menihilkan konten negatif di ruang digital. Segala kebajikan pada bulan yang istimewa ini harus tercermin dari konten-konten yang di upload di ruang digital.
Narasi kebencian, gosip, SARA, caci-maki, sinisme, dan segala bentuk fitnah termasuk motif kejahatan harus diakhiri pada bulan ini. Kehadiran Ramadan menjadi pengingat betapa bahayanya segala konten negatif yang akan menjerumuskan pemiliknya. Orientasi negatif dalam membuat konten harus berakhir seiring hadirnya bulan penuh ampunan dan maghfirah ini.
Penanda pertobatan dalam ruang digital, sejak berubahnya konten itu sendiri, baik berupa teks, gambar, video, animasi, maupun gabungan dari keseluruhannya. Perubahan dari konten kurang bermanfaat menjadi lebih baik dan memberikan kemanfaatan bagi netizen yang lain.
Jika selama ini media sosial juga dimanfaatkan hanya untuk kepentingan yang alakadarnya, sekedar pamer dan konten yang tidak bermakna, maka saatnya itu pun diakhiri. Walaupun tidak cenderung negatif, tetapi konten-konten kurang faedah ini ditingkatkan derajatnya menjadi konten lebih baik, memberikan inspirasi, ilmu, atau solusi bagi netizen lain.
Berbuat baik pada bulan Ramadan tidak hanya pada kehidupan sosial nyata, tetapi juga bagaimana kita membangun citra diri sebagai orang yang benar-benar melakukan pembenahan diri dengan mengubah konten-konten di ruang digital masing-masing. Kendati setiap orang memiliki derajat kemampuan untuk memproduksi konten baik, tetapi setidaknya, keinginan dan praktik baik ini dapat dimulai dari hal-hal kecil.
Salah satu aktivitas yang terkadang tidak terasa tetapi dapat menjadi cermin tentang kita sendiri yaitu bagaimana cara kita mengomentari tulisan atau konten orang lain. Menjadi komentator sebenarnya bukan perkara mudah, walaupun kelihatannya asal-asalan, namun siapa kita sebenarnya dapat dilihat dari bagaimana kita ketika mengomentari konten orang lain.
Untuk itu menjadi manusia suci dan bertakwa di akhir bulan Ramadan, seseorang juga dapat dinilai dari konten di ruang digitalnya. Karenanya media sosial misalnya, tiada lain merupakan cermin dari wajah seseorang. Maka tidak ada alasan di bulan Ramadan ini kita untuk tidak mensucikan ruang digital, sehingga ketakwaan kita akan lebih sempurna jika amalan kita menjadi lebih baik di ruang sosial nyata maupun ruang digital.(*)
| Fastabiqul Khairat ke-10 di Bandung Resmi Ditutup, Peserta Tembus 600 Anak dari Enam Daerah |
|
|---|
| Inovasi Berkah FABA PLN IP UBP JPR perkuat ketahanan pangan di bulan suci Ramadan |
|
|---|
| 402 Knalpot Brong di Purwakarta 'Disikat' Polisi selama Razia Ramadan, Pemiliknya Ditilang |
|
|---|
| Berkah Bulan Suci Ramadhan PLN Bekasi Terangi Keluarga Kurang Mampu Lewat Program Light Up The Dream |
|
|---|
| Manis untuk Berbuka, Pahit di Hulu: Cerita Produsen Kolang-Kaling Purwakarta Sulit Cari Bahan Baku |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-ramadan-atau-bulan-puasa-2020-2.jpg)