Jumat, 10 April 2026

Jika Hasil Pemilu Bukan Paslon Pilihan, Begini Cara Hadapi untuk Jaga Kesehatan Mental dari Psikolog

Di balik antusiasme masyarakat untuk mendukung paslonnya, Psikolog Associated Ibunda.id, Roselli Kezia Ausie, M.Psi pun mengingatkan untuk tetap bisa

Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Darajat Arianto
Tribun Jabar/Muhamad Nandri Prilatama
Ilustrasi simulasi pemilu. Di balik antusiasme masyarakat untuk mendukung paslonnya, Psikolog Associated Ibunda.id, Roselli Kezia Ausie, M.Psi pun mengingatkan untuk tetap bisa mengontrol diri sendiri. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemilihan Umum (Pemilu) akan berlangsung pada 14 Februari 2024.

Saat ini pun tengah memasuki masa tenang dimana semua alat peraga kampanye (APK) yang bersifat fisik dan digital pun dihentikan.

Beberapa hari ke depan adalah waktu yang menentukan dimana pemimpin baru akan segera terpilih dan menjamin kehidupan warga negara Indonesia di 5 tahun berikutnya.

Para pendukung pasangan calon 01,02, dan 03 pun jika dilihat dari media sosial masih terus lantang berharap paslon pemimpin mereka bisa memenangkan di Pilpres 2024.

Di balik antusiasme masyarakat untuk mendukung paslonnya, Psikolog Associated Ibunda.id, Roselli Kezia Ausie, M.Psi pun mengingatkan untuk tetap bisa mengontrol diri sendiri.

Baca juga: Cara Mengawal Perhitungan Suara Online Pilpres 2024 Lewat KawalPemilu, Berikut Cara Menggunakannya

"Ada tiga hal yang bisa kita kontrol yaitu apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita lakukan," ujar Kezia saat ditemui di The Trans Luxury Hotel, Jalan Gatot Subroto No 289, Senin (12/2/2024).

Kezia mengatakan jika nanti hasil pemilu tidak sesuai harapan, sebagai manusia tetap harus fokus akan tiga hal tersebut.

Ia pun menyebutkan masih banyak hal positif yang bisa dilakukan ketika kenyataan tidak sesuai harapan sebagai warga negara atau pendukung paslon tertentu.

Misalnya saja tetap peduli terhadap jalannya pemerintahan, mengkritik yang sehat terhadap pemerintah yang sedang berlangsung, dan fokus pada hal yang masih dalam kendali diri sendiri.

"Kita perlu terbuka dengan berbagai kemungkinan ketika mendukung salah satu paslon. Masih banyak kemungkinan yang terjadi," ujarnya.

"Jangan terlalu naif apa yang kita yakini dan benar akan terealisasikan. Justru yang perlu dilindungi adalah diri sendiri," kata Kezia.

Kezia pun mengatakan jika terkadang masyarakat tidak terbiasa dengan kegagalan.

Bahkan secara umum, Indonesia umumnya memandang ketidak berhasilan dianggap aib.

Sebaiknya cara menghadapi kegagalan ini dikatakan Kezia harus diajarkan sejak dini.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved