VIRAL Hilmi Santri Ponpes di Kuningan Meninggal Dibully, Warga Desa Maniskidul Benarkan
Budiman (40) warga Desa Maniskidul, mengatakan, informasi heboh dugaan kekerasan hingga menimbulkan korban jiwa itu benar.
Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Ravianto
TRIBUNJABAR.ID, KUNINGAN - Tindak kekerasan alias perundungan kembali terjadi di dunia pendidikan di Kuningan.
Kali ini, tindak kekerasan itu terjadi di Pondok Pesantren Husnul Khotimah yang terletak di Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kuningan.
Informasi tindak kekerasan di Pondok Pesantren Husnul Khotimah ini diunggah sejumlah akun media sosial, salah satunya @gennrabani123
Korbannya disebut bernama Hilmi (18 tahun) dan meninggal diduga dianiaya santri senior.
Unggahan di medsos itu memperlihatkan korban perundungan yang meninggal, setelah mendapat perawatan medis di pusat pelayanan kesehatan pemerintah setempat.
Terlihat foto korban berlatar hitam putih itu bertuliskan, usut tuntas Hilmi (korban) tampak tertera di bagian atas figuran foto tersebut.
Sedang, caption berbeda di bagian bawah itu bertuliskan penjarakan para biadab.
Selain itu, dalam komentar akun Instagram itu terdapat artikel panjang yang menuliskan keprihatinan pemilik akun tersebut.
genrabbani123 menuliskan
inilah hasil dari sistem tarbiyah amburadul, yang dihasilkan adalah penindas-penindas yang tak soal ilmu apalagi adab, tapi nyali yang bodoh. Memaksakan ideologi tertentu, abai dengan kebutuhan yang mendesak terkait sikap dan intelektual santri.
Sibuk menambah jumlah, benar-benar lupa akan penting menyeimbangkan kapasitas pengawas dan pengajar.
Getol meyakinkan calon walisantri untuk menitipkan anaknya. Ganjarannya adalah kebebasan yang buta nan brutal akibat dari absennya tanggung jawab dari pihak pengelola. Lantas yang disalahkan santri yang makin tidak manusiawi. Itu benar namun sekaligus dampak dari kebobrokan sistem usang yang dipaksakan.
Akui saja kalau memang sistemnya telah gagal menciptakan generasi robbani. Mungkin ada beberapa contoh yang berhasil, namun kurasa harganya terlalu mahal melihat 'efek samping', yang kini menelan korban nyawa. Tolong evaluasi, kami santri muak dengan ini!
Komentar lain dalam kolom tersebut juga menuliskan demikian.
tidak pernah terbayangkan betapa 12 hancurnya hati kedua orang tuanya. mempercayai pesantren sepenuhnya dengan harapan menjadi anak yang soleh nan membanggakan, namun tuhan berkata lain. mengikhlaskan hilmi untuk pergi menuntut ilmu berujung pilu, pamitnya hilmi untuk berangkat kala itu adalah pamit terakhirnya, hingga akhirnya hilmi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/hilmi-santri-kuningan.jpg)