Murid SD di Bandung Barat Keracunan
Penjual Cimin yang Diduga Bikin Puluhan Murid SD di KBB Keracunan Sudah Dipulangkan tapi . . .
Dari hasil pemeriksaan sejumlah korban, kata Luthfi, diketahui mereka mengakui merasakan gejala setelah mengonsumsi cimin.
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Hermawan Aksan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Polisi telah selesai melakukan pemeriksaan terhadap TA (74), kakek penjual aci mini alias cimin, yang diduga telah menyebabkan puluhan siswa SDN Jati 3 keracunan.
Sebelumnya, 34 siswa SDN Jati 3, Desa Saguling, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB), keracunan setelah mengonsumsi cimin hingga satu orang di antaranya meninggal dunia karena memiliki penyakit penyerta Thalassemia.
Setelah kejadian itu polisi melakukan penyelidikan, mulai dari mengambil sampel cimin itu, meminta keterangan sejumlah korban, dan memeriksa TA yang menjual cimin di SDN Jati 3 tersebut.
"Penjual (cimin) sudah kami pulangkan, tapi dia wajib lapor sambil menunggu hasil pemeriksaan sampel dari Labkesda keluar," ujar Kasatreskrim Polres Cimahi, AKP Luthfi Olot Gigantara, saat dihubungi, Sabtu (30/9/2023).
Hanya saja, pihaknya belum bisa menjelaskan secara terperinci hasil pemeriksaan dari pedagang cimin tersebut karena untuk memastikan penyebab pasti keracunan itu harus menunggu hasil uji laboratorium sampel ciminnya keluar.
Ia mengatakan, pemeriksaan sampel makanan tersebut sudah dilakukan dengan tujuan untuk memastikan apakah ada kandungan berbahaya atau tidak di dalam cimin yang dijajakan pedagang berinisial TA tersebut.
"Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan KBB dan sampai saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan sampel cimin itu keluar," katanya.
Dari hasil pemeriksaan sejumlah korban, kata Luthfi, diketahui mereka mengakui merasakan gejala setelah mengonsumsi cimin yang dibeli dari sekolahnya, lalu mereka melakukan pemeriksaan ke Puskesmas Saguling.
"Dari pemeriksaan korban, mereka membenarkan sempat mengonsumsi jajanan berupa cimin yang dibeli di depan sekolah atau tempat mereka mengadakan kegiatan," ucap Luthfi.
Kepala Dinas Kesehatan KBB, Hernawan Widjajanto, mengatakan, setelah mengonsumsi cimin tersebut puluhan siswa itu mengalami mual, muntah-muntah, dan diare, sehingga penyebabnya diduga dari makanan tersebut.
"Penyebab keracunan diduga berasal dari serbuk atau bumbu tabur pedas karena siswa lain yang mengonsumsi cimin tapi tidak diberi serbuk pedas tidak mengalami gejala keracunan," kata Hernawan.
Untuk memastikan penyebab keracunan, pihaknya sudah mengambil tujuh sampel, yakni terigu (bahan baku), bahan cabai kering, penyedap rasa, bumbu bawang, cimin siap goreng, bumbu keju, dan dan bahan baku cimin tepung singkong tapioka untuk dilakukan uji laborarorium.
"Semua sampel cimin itu sudah kami ambil, termasuk serbuk pedasnya. Dengan demikian, nanti akan ketahuan penyebab keracunannya karena apa," ucapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/puskesmas-saguling-keracunan-cimin.jpg)