Mendaki Gunung Terbersih di Indonesia
Di Bongkeng Sunrise Camp Gunung Kembang, Matahari Menyapa dari Balik Merbabu
Dari dalam tenda, matahari menyembul dari balik Merbabu. Semburat merahnya mewarnai Gunung Sumbing. Memantul di pucuk Merapi.
Penulis: Arief Permadi | Editor: Arief Permadi
Oleh Arief Permadi, Jurnalis Tribun Jabar
BUKAN hal mudah mendaki Gunung Kembang. Meski tingginya tak lebih dari 2.400 meter di atas permukaan laut, mendakinya sungguh memerlukan perjuangan. Kadang-kadang bahkan harus setengah memanjat.
Meski berstatus sebagai gunung wisata, Gunung Kembang di Dukuh Blembem Kaliurip, Desa Damarkasiyan, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini, berbeda dengan kebanyakan gunung wisata lainnya. Jalurnya sengaja dibiarkan terjal hingga akhir.
Bahkan, sejak di batas jalan berbatu selepas basecamp, para pendaki sudah disambut jalan setapak menembus kebun teh dengan kemiringan hampir 45 derajat. Perlu 30-an menit sebelum akhirnya sampai di batas hutan, Pos Kandang Celeng di ketinggian 1.790 mdpl.
Nyaris tak ada jalan yang mendatar yang bisa ditemui untuk sekadar beristirahat memulihkan kembali nafas yang tersengal-sengal. Untungnya jarak antarpos di jalur ini sengaja dibuat rapat. Benar-benar terasa membesarkan hati, terlebih bagi mereka yang baru pertama ke gunung ini.
“Memang sengaja dibuat seperti itu. Biar mereka yang mendaki tetap semangat meski jalannya terjal banget. Ada perhitungan psikologis juga,” ujar Yayank (46), anggota Skydoors, salah seorang pengelola Basecamp Blembem yang April, 2021 lalu juga ikut membuka jalur Blembem ini bersama rekan-rekannya di Skydoors.
Ada sembilan pos penghentian setelah Pos Kandang Celeng sebelum tiba di Bongkeng Sunrise Camp di ketinggian 2.330 mdpl. Setelah Kandang Celeng, para pendaki akan bertemu dengan Pos Paleman yang terjal disusul Pos Liliput, Simpang Tiga, Coki-coki, dan Ekor Naga, serta Pos Akar yang tak kalah terjal.
Jalur baru mulai sedikit ramah memasuki Savana 1 dan Savana 2 yang berada di punggungan, sebelum kembali menanjak di Tanjakan Mesra, yang memiliki kemiringan 60 derajat bahkan lebih. Itu sebabnya tanjakan ini disebut Tanjakan Mesra, kependekan dari menyiksa raga.
Saking sulitnya mendaki dengan tangan kosong, tali-tali panjang disiapkan para pengelola Gunung Kembang di beberapa titik di tanjakan ini untuk membantu para pendaki memanjat. Tanpa itu, pendakian benar-benar sulit. Bahkan dengan tali pun, pendakian masih menguras banyak tenaga.
Namun, semua kelelahan itu terbayar saat akhirnya tiba di pos yang kini dikenal dengan sebutan Sunrise Bongkeng Camp. Pemandangan pagi di tempat ini sungguh menakjubkan. Dari dalam tenda, matahari tampak menyembul dari balik Merbabu. Semburat merahnya mewarnai Gunung Sumbing. Memantul di pucuk Merapi.
“Pemandangan itu pula yang dulu dilihat Wa Bongkeng saat membuka pintu tendanya menjelang pagi di punggungan itu. Itu sebabnya kami kemudian sepakat menamainya Bongkeng Sunrise Camp,” cerita Abon (33), anggota Skydoors yang hari itu menemani kami bermalam di sana.
Bagi para pendaki di Tanah Air, Bongkeng adalah legenda. Tahun ini usianya 73 tahun dan masih mendaki.
Gunung Paling Bersih di Indonesia
TAK hanya memiliki panorama yang indah, Gunung Kembang ternyata juga sangat bersih. Ini mungkin gunung terbersih di Indonesia. Tak sedikit pun sampah ditemukan di sepanjang perjalanan, bahkan di sudut-sudut yang tersembunyi di pos-pos pendakian yang biasa dipakai para pendaki beristirahat.
Ini pula yang membuat Gunung Kembang menjadi satu dari 17 gunung di Pulau Jawa yang dipilih oleh satu dari 17 tim Ekspedisi 17 Gunung yang digagas Eiger Adventure dalam memperingati Hari Kemerdekaan ke-78 RI, 17 Agustus lalu.
“Jika tak melihatnya sendiri, sulit untuk bisa percaya. Gunung ini benar-benar bersih dari sampah. Tak mengherankan jika orang kemudian menjulukinya sebagai gunung terbersih di Indonesia,” ujar Shulhan Syamsur Rijal, Public Relation Executive Eiger, yang juga ikut mendaki bersama salah satu tim Ekspedisi 17 di Gunung Kembang.
Bersihnya Gunung Kembang juga terlihat di puncaknya yang lapang.
“Bahkan celeng-celeng yang dulu banyak sekali berkeliaran, malu buat datang kembali,” ujar Azis Rifayanto (51), aktivis Skydoors yang kini juga banyak menghabiskan waktunya mengurusi para pendaki di Basecamp Blembem.
Empat-lima tahunan lalu, saat Gunung Kembang belum sebersih sekarang, dikunjungi babi hutan bahkan hampir menjadi kelaziman bagi para pendaki gunung ini. Celeng-celeng itu, ujarnya, sudah tak takut-takut lagi berhadapan dengan manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/disambut-matahari.jpg)