Senin, 27 April 2026

Ini Ucapan-ucapan Penyemangat dari Bung Karno dalam Pidato 17 Agustus Sejak 1946 Hingga 1966

Hidupkan, hidupkan – semangat elang rajawali itu, dan kamu sekalian, kita sekalian akan merdeka, MERDEKA di dalam arti yang seluas-luasnya!

|
Penulis: Adityas Annas Azhari | Editor: Adityas Annas Azhari
dok Tribunnews
Soekarno saat berpidato 

SOEKARNO, Presiden pertama Indonesia adalah orator hebat. Pidato-pidatonya memukau karena ia menggunakan diksi yang tepat, bahasa tubuh yang sesuai dengan isi pidato, dan pengulangan kata yang jelas.

Massa betah mendengarkan pidato sang Proklamator RI itu, rakyat bahkan termotivasi denanpesona kata-karta yang dilontarkan Bung Karno. Ia sendiri mengklaim dirinya sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia.

Begitu pun pidato yang disiarkan langsung melalui radio dari depan Istana Merdeka pada setiap17 Agustus. Pidato kenegaraan dengan judul-judul yang menggetarkan jiwa itu selalu dinanti-nantikan rakyat karena menjadi semacam pedoman bernegara.

Ir Soekarno
Ir Soekarno (Kompas.com)

Dilansir dari Kompas.com, Soekarno menyebutkan, ia kerap menitikkan air mata saat menuliskan amanat karena kondisi batin yang penuh dengan emosi.

Emosi ini bukan amarah, melainkan perasaan haru dan cinta yang begitu besar kepada bangsa dan negara. “Tiap kali saja mempersiapkan pidato 17 Agustus lantas menjadi seperti dalam keadaan keranjingan,” ujar Soekarno pada 1963.

Berikut ini adalah ucapan Bung karno dari penggalan pidato-pidato kenegaraanya pada tiap 17 Agustus sejak 1946 hingga 1966.

MARILAH kita menjadi rakyat yang gemblengan! Jangan Lembek! segenap jiwaku, segenap rohku, memohon kepada Tuhan, supaya bangsa Indonesia menjadi satu bangsa yang menjadi penjaga persaudaraan dunia dan kesejahteraan dunia. Suatu bangsa yang kuat, yang ototnya kawat dan balungnya wesi, yang di dalam tubuhnya bersarang jiwa yang terbuat dari zat yang sama dengan zatnya halilintar dan guntur !
(Pidato 17 Agustus 1946: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!)

RAWE-RAWE rantas, malang-malang putung! Kita tidak mau. Dua kita melawan! Sesudah Belanda menggempur..... mulailah ia dengan politiknya devide et impera, politiknya memecah belah ..... maka kita bangsa Indonesia bersemboyan bersatu dan berkuasa !
(Pidato 17 Agustus 1947: Rawe-Rawe Rantas, Malang-Malang Putung!)

MENGALIRLAH terus, hai Sungai, mengalirlah terus menuju Lautan Merdeka, – terus – meski ada rintangan dan halangan bagaimanapun juga. Patahkan semua rintangan itu, dadalkan semua halangan yang mengadang di jalanmu. Lautan Indonesia Merdeka pasti nanti tercapai.
Jangan berhenti, sebab, sebagaimana dikatakan oleh seorang pujangga: dengan mengalir terus menuju Lautan, engkau setia kepada Sumbermu.
(Pidato 17 Agustus 1948: Seluruh Nusantara Berjiwa Republik)

Foto karya Frans Mendur yang mengabadikan Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, Nomor 56, Cikini, Jakarta. (Frans Mendur)
Foto karya Frans Mendur yang mengabadikan Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, Nomor 56, Cikini, Jakarta. (Frans Mendur) (Frans Mendur via Kompas.com)

SEGALA pekerjaan-pekerjaan yang besar di dunia ini, segala perjuangan yang mulia, hanyalah dapat dijalankan dengan uletnya tekad semangat elang-rajawali.
Hidupkan, hidupkan – semangat elang rajawali itu, dan kamu sekalian, kita sekalian akan merdeka, MERDEKA di dalam arti yang seluas-luasnya!
(Pidato 17 Agustus 1949: Tetaplah Bersemangat Elang Rajawali)

HANYA dengan penyerahan tenaga yang bersatu-padu itulah, pengerahan tenaga habis-habisan, pengerahan tenaga mati-matian, yang diperguna-kan secara rasionil untuk pembangun produksi, beserta dengan kegembiraan bekerja yang segembira-gembiranya, maka dapatlah kita merintis jalan yang menuju kemakmuran rakyat. Karena itu sekali lagi, berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.
(Pidato 17 Agustus 1950: Dari Sabang Sampai Merauke)

Baca juga: Menanti Proyek Megah Pelengkap Patung Soekarno yang Akan Dibangun di Bandung Barat

HAI bangsa Indonesia, jangan jadi satu bangsa yang segan akan kerja. Jangan jadi satu bangsa yang hanya mau senang-senang saja. Jangan mengira sesuatu bangsa bisa menjadi bangsa yang muda, hanya karena ia mencintai kesenangan saja, "een volk wordt niet verjongd doordat men het de aanbidding van het genot leert", demikianlah ujar Mazzini, pemimpin-nasional Italia. Sungguh camkanlah sekali lagi hukum-pasti dari sejarah itu: tiada kesenangan zonder kerja, tiada kemakmuran zonder keringat.
(Pidato 17 Agustus 1951: Capailah Tata Tentram Kerta Raharja)

MENJADILAH kita satu bangsa yang penuh dinamik, satu bangsa yang "iyeg rumagang hing gawe", satu bangsa yang tidak dengki-mendengki satu sama lain, satu bangsa yang "tebih saking cecengilan, adoh saking laku juti". Menjadilah Negara kita Negara yang memenuhi segala harapan-harapan kita yang masih hidup, dan harapan-harapannya kawan-kawan kita yang telah mati. Menjadilah rakyat Indonesia rakyat yang makmur, sebab ia mengerti dan menindakkan, bahwa kemakmuran hanyalah menjelma jika dipanggil dengan panggilannya, gawe.
(Pidato 17 Agustus 1952: Harapan dan Kenyataan)

Baca juga: Potret Cucu Termuda Soekarno Beranjak Dewasa, Paras Tampan Curi Perhatian, Miliki Gen dari 3 Negara

JIWA Merdeka itu, Jiwa yang tak segan bekerja dan memberi. Jiwa dinamis yang bisa berdiri sendiri di atas kaki sendiri dari hasil usaha sendiri – bukan jiwa yang meminta, merintih, mengemis saja ke kanan dan ke kiri, sambil bermimpi dapat mencapai derajat-penghidupan yang makmur dengan seboleh-bolehnya tidak bekerja samasekali.
Kita tidak hidup di alam impian, kita hidup di alam kenyataan. Kita tidak hidup di alam sorga, kita hidup di alam dunia.
(Pidato 17 Agustus 1953: Jadilah Alat Sejarah)

Soekarno
Soekarno (dok Tribunnews)

BERIKANLAH jiwa-ragamu dengan mutlak! Jangan setengah-setenguh! Yang setengah-setengah tidak akan mendapat padi segegam, yang mutlak akan mendapat dunia.
Vivekananda pernah berkata, bahwa sesuatu bangsa yang tenggelam hanyalah dapat diangkat oleh orang-orang yang jiwanya terbuat dari zatnya petir dan zatnya guntur.
Terjunlah ke dalam lautan-bakti itu dengan jiwa yang terbuat dari zatnya petir dan zatnya guntur! Moga-moga Tuhan selalu beserta kita!
(Pidato 17 Agustus 1954: Berirama dengan Kodrat)

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved