Pengamat Transportasi: Halte Lebih Baik Dibongkar Daripada Kumuh, Ingatkan Perencanaan yang Baik
Pengamat transportasi dari ITB, Sony Sulaksono memandang wacana pembongkaran sejumlah halte tak terpakai di Kota Bandung lebih baik ketimbang dibiarka
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Darajat Arianto
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pengamat transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Sony Sulaksono memandang wacana pembongkaran sejumlah halte tak terpakai di Kota Bandung lebih baik ketimbang dibiarkan kumuh hingga menjadi tempat gelandangan dan lainnya.
Tetapi, Sony pun menilai wacana usulan pembongkaran yang dilontarkan Dinas Perhubungan Kota Bandung itu mengindikasikan bahwa halte-halte yang sudah dibuat tidaklah dibangun dengan perencanaan yang baik.
"Rute busnya enggak ada tapi dibangun halte. Itu harus menjadi catatan dan mestinya menjadi masalah," katanya saat dihubungi Tribun Jabar, Selasa (30/5/2023).
"Kan halte itu dibangun dengan anggaran APBD kemudian dibongkarnya pun pasti dengan dana APBD juga. Tentunya pasti menjadi pertanyaan, meskipun betul kesannya menjadi buang-buang anggaran," ujar Sony.
Baca juga: Jalan Sukajadi Sudah Tepat Diterapkan Satu Arah, kata Pengamat Transportasi
Ketika disinggung terkait langkah usulan pembongkaran tepat atau tidak, Sony mengatakan semestinya menjadi pembelajaran agar ke depannya jika menata angkutan umum harus ada perencanaan yang baik.
"Saat pembangunan halte di awal itu seolah hanya ingin habiskan anggaran semata. Saya dahulu ingat, sempat ada teguran dari wali kota ke Dishub Kota Bandung kok sudah mendekati akhir tahun sedangkan penyerapan masih rendah sekali," ujarnya.
"Akhirnya, kadishub pun memutuskan membangun halte sampai puluhan secara masif dan jujur saya pun mempertanyakannya dasar membangun halte sekaligus penetapan titik haltenya bagaimana," ucapnya.
"Dan, kagetnya dahulu alasannya itu bangun haltenya dahulu baru busnya direncanakan," katanya.
Akan tetapi, lanjutnya, ternyata busnya pun tak kunjung terealisasi.
Baca juga: Kenalkan MapaG, Aplikasi Transportasi Daring Buatan Dua Putra Majalengka, Terinspirasi dari Petani
Kondisi ini membuat halte-halte terbengkalai dan menjadi sarang gelandangan atau penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) lainnya yang menjadikan halte lebih kumuh. (*)
Silakan baca berita terbaru Tribunjabar.id, klik GoogleNews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/halte-bus-rapid-transit-brt-cinunuk-di-jalan-raya-cinunuk.jpg)