Bupati Minta SMAN 6 Garut Diaudit, Sekolah Lalai sehingga Ijazah Bisa Diambil Orang Lain
Pemerintah Kabupaten Garut, tengah berupaya menyelesaikan masalah tersebut dengan melakukan komunikasi ke berbagai pihak.
Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: Ravianto
TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Bupati Garut, Rudy Gunawan, akhirnya angkat bicara terkait hilangnya ijazah milik WM (19), siswi SMAN 6 Garut.
Ia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Garut, tengah berupaya menyelesaikan masalah ijazah SMA hilang tersebut dengan melakukan komunikasi ke berbagai pihak.
"Ini pasti akan diselesaikan meski ini bukan kewenangan Pemkab Garut. Ini kewenangannya provinsi," ujarnya saat ditemui Tribun di Garut, Minggu (28/5).
WM kehilangan ijazahnya karena tak mengambilnya tepat waktu seperti yang seharusnya. WM tak bisa mengambil ijazah tepat waktu karena masih menunggak biaya sekolah.
Namun, itu justru berbuah petaka, karena ijazahnya ternyata sudah tak ada lagi di sekolah saat ia akhirnya bisa mengambilnya.
Pihak sekolah mengaku ijazah itu sudah ada yang mengambil, dan hingga kemarin tak lagi diketahui keberadaannya.
Bupati mengaku sangat kecewa dengan peristiwa tersebut. Siswa yang memiliki tunggakan di sekolah, menurutnya tidak perlu dipersulit saat hendak mengambil ijazah.
Alih-alih mempersulit, ujar Rudy, pihak sekolah sejatinya harus memberikan keringanan kepada orang tua siswa, khususnya dalam pengambilan ijazah.
"Kita kan bisa berunding, kan banyak cara untuk membantu, ada CSR, misalnya," ucapnya. "Ini tak boleh lagi terjadi."
Menyusul temuan ijazah hilang gara-gara orang tua murid telat membayar iuran, Rudy meminta SMAN 6 Garut untuk segera diaudit.
"Makanya, janganlah SMAN 6 kayak gitu. Dia narik uang gede lho tiap bulan tahunnya. Audit lah SMAN 6 itu. Audit!" ujarnya.
Sebelumnya, kepada Tribun Jabar, Bidang Kurikulum SMAN 6 Garut, Taopik Ramdani, mengatakan ijazah WM memang sudah tak lagi berada di sekolah karena sudah ada yang mengambil. Bukti pengambilan, ujarnya, bahkan tertera tanda tangan dalam buku serah terima ijazah di SMAN 6 Garut.
"Pihak sekolah tidak menyalahkan keluarga, tapi silakan cek lagi barangkali ada dari keluarga yang mengambil," ujarnya saat ditemui TRibun Jabar, Kamis (25/5).
Ia mengatakan, hal seperti ini banyak terjadi. Ada anggota keluarga lain yang mengambil ijazah tersebut tanpa sepengetahuan keluarga siswa.
"Yang jadi masalahnya tanda tangan ada tapi tidak ada nama, jadi saya susah sekali untuk dilacak keluarga," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Suasana-SMAN-6-Garut.jpg)