Hasil Pengamatan Rukyat Hilal di Unisba Belum Terlihat, Dari Ketinggian Hilal pun Belum Maksimal
Pemantauan Rukyat Hilal dilakukan di Observatorium Albiruni Fakultas Syariah Unisba, Kamis (20/4/2023).
Penulis: Cipta Permana | Editor: Darajat Arianto
Laporan wartawan Tribunjabar.id, Cipta Permana
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Fakultas Syariah Universitas Islam Bandung (Unisba), bekerja sama dengan Bagian Peningkatan Ruhul Islam dan Pengelolaan Masjid (PRIPM) Unisba, BMKG Bandung dan Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat melakukan pengamatan Rukyat Hilal awal Syawal 1444 H.
Pemantauan Rukyat Hilal dilakukan di Observatorium Albiruni Fakultas Syariah Unisba, Kamis (20/4/2023).
Kepala Observatorium Albiruni Fakultas Syariah Unisba, Encep Abdul Rojak mengatakan, dari hasil pengamatan yang dilakukan selama sepuluh menit, sejak pukul 17.46 WIB, hingga 17.55 WIB, disimpulkan bahwa hilal belum terlihat.
"Saat proses pengamatan hilal yang kami lakukan di Observatorium Albiruni tadi, kondisi cuaca memang kurang mendukung, yakni mendung dan disusul oleh hujan. Jadi, hasil pengamatan ternyata belum tampak (hilalnya), karena terkendala cuaca," ujarnya seusai proses pengamatan hilal.
Selain faktor cuaca, menurutnya dari segi ketinggian hilal pun belum maksimal.
Dimana hilal dapat terlihat pada ketinggian +3 derajat pada saat matahari terbenam.
Baca juga: Hilal Tak Terlihat di Pantai Baro, Badan Hisab dan Rukyat Daerah Kab Cirebon: Besok Masih Berpuasa
"Sedangkan tadi berdasarkan data citra pengamatan, hilal baru berada di angka satu derajat. Sehingga butuh tenaga ekstra untuk melakukan Rukyat Hilal ini," kata Encep.
"Selain itu, karena proses pengamatan terkendala cuaca yang sangat membatasi kami, sehingga pengamatan hilal 1 Syawal tahun ini belum berhasil," ucapnya.
Ia menjelaskan, bahwa pengamatan Rukyat Hilal dilakukan pada setiap tanggal 29 pada setiap bulan sebelumnya.
Oleh karena itu, dengan tidak tampaknya hilal berdasarkan pengamatan saat ini, maka secara ilmiah, bahwa Jumat (21/4/2023) masih bulan Ramadhan, dan awal Syawal 1444 H sudah pasti jatuh pada Sabtu (22/4/2023).
"Lalu apakah besok kami akan melakukan pengamatan kembali, itu bukan sesuatu untuk memastikan tanggal 1 Syawal 1444 H," ujarnya.
"Melainkan hanya untuk latihan atau pengamatan biasa, dan tidak berdampak atau menjadi bahan sidang itsbat penetapan 1 Syawal 1444 H," ujar Encep.
Ia menambahkan, hasil dari pengamatan rukyat hilal di Observatorium Albiruni Unisba akan tetap dilaporkan kepada Kementerian Agama, terlepas berhasil atau tidak melihat hilal hari ini.
Terlebih, di Jawa Barat, terdapat sebelas titik pengamatan, termasuk Observatorium Albiruni Fakultas Syariah Unisba.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Rukay-Hilal-di-Unisba-Kamis-2042023.jpg)