Rabu, 8 April 2026

Adhikarya

Penanganan Stunting Bisa Difokuskan di Daerah dengan Prevalensi yang Tinggi

Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Iwan Suryawan, S.Sos., mengatakan dibutuhkan penanganan berkelanjutan, dalam penanganan kasus stunting

Istimewa
Iwan Suryawan, Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Iwan Suryawan, S.Sos., mengatakan dibutuhkan penanganan yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan, dalam penanganan kasus stunting atau anak yang mengalami gangguan perkembangan akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang di Jawa Barat.

Di Jawa Barat, kata Iwan, angka stunting pada 2013 mencapai 35,3 persen dari keseluruhan anak. Kemudian pada 2018 menurun menjadi 31,3 persen, pada 2019 menjadi 26,21 persen, pada 2021 menjadi 24,5 persen.

Pada 2022 turun jadi 20,2 persen di tahun 2022, dan pada 2023 ditargetkan menurunkan kembali sampai 19,2 persen.

"Tapi masih menyisakan daerah-daerah yang memiliki angka prevalensi stuntung tertinggi. Kita ke depannya bisa fokus di daerah-daerah tersebut melakukan penanganan bersama. Sisir saja daerah-daerah yang masih tinggi angkanya. Supaya tidak ada lagi kasus stunting baru pada 2023," kata kata anggota dewan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera ini, Selasa (7/3/2023).

Data Bappeda Jabar menyebutkan daerah dengan angka prevalensi stunting tertinggi adalah Kabupaten Garut dengan 35,2 persen, Kabupaten Cianjur dengan angka 33,7 persen, Kabupaten Bandung 31,1 persen, dan Kota Cirebon dengan 30,6 persen.

Anggota dewan dapil Kota Bogor ini berharap para kepala daerah bersama-sama dengan Pemprov Jabar menurunkan angka stunting, antara lain pengalokasian anggaran yang dibutuhkan dalam kegiatan penurunan angka stunting. Juga sinkronisasi semua programnya agar semakin terarah.

"Kita tidak harus menunggu sampai kasus stunting muncul, baru diselesaikan. Langkah preventif dan promotif, atau pencegahan, ini yang kita perlukan untuk dikebut.

Juga ke depannya kita lakukan pendampingan terus," kata Iwan.

Iwan mengatakan dalam penanganannnya dibutuhkan data, pemetaan, dan  metodologi yang akurat.

Tindakan pun harus dilakukan sedini mungkin. Dari memberikan tablet penambah darah bagi remaja perempuan, persiapan pernikahan, sampai anak yang harus diberikan protein hewani dan gizi yang cukup.

"Bahkan sebelum ibu menikah, itu harus kita cek dulu kalau seumpamanya calon ibu kurang darah harus diberikan Tablet Tambah Darah dulu," ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved