Waspada Penularan HIV/AIDS, UNAIDS Sebut Indonesia Ranking 4 Dari Bawah dalam Upaya Pengobatan
Technical Consultant UNAIDS Indonesia, Bagus R Prabowo, mengatakan bahwa Indonesia berada di ranking ke-4 dari bawah dalam hal pengobatan HIV/AIDS.
Penulis: Tiah SM | Editor: Kemal Setia Permana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Tiah SM
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Asia merupakan kawasan yang dianggap paling rendah dalam upaya pengobatan HIV/AIDS. Padahal wilayah ini dianggap kawasan paling rentan penularan HIV/AIDS dalam beberapa tahun terakhir.
Hal ini diungkapkan Technical Consultant UNAIDS Indonesia, Bagus R Prabowo, dalam seminar PPIA Menuju Indonesia Emas Tahun 2045 di Gedung Graha Binangkit, Sabtu (4/3).
Menurut Bagus, jika bicara mengenai HIV 10 tahun lagi, maka bukan lagi berbicara mengenai negara Afrika, tapi negara di bawahnya yang justru angka prevalensinya rendah salah satunya Indonesia.
"Asia akan jadi the next Afrika karena pengobatannya paling rendah. Berbeda dengan Afrika yang sekarang pengobatannya sedang dikejar. Indonesia saat ini berada di rangking 4 dari bawah," ungkap Bagus.
Baca juga: Ibu Rumah Tangga Sumbang 11 persen Angka Pengidap HIV/AIDS, Diimbau Minum Obat Antiretroviral
Menurut Bagus, pemerintah perlu mencari jalan agar pencegahan dan pengobatan penularan HIV/AIDS bisa dilakukan semaksimal mungkin dalam rangka menuju Indonesia Emas Tahun 2045.
Sementara menurut dia, strategi berupa slogan sudah lagi tidak 'masuk' untuk generasi sekarang.
Strategi yang lebih baik saat ini ia istilahkan dengan menyodorkan 'wastafelnya'.
"Istilahnya kita lemparkan saja wastafelnya. Kita paparkan apa yang terjadi. Jangan merasa tabu untuk membahas hal tersebut. Apalagi infeksi menular seksual (IMS) di kita itu tinggi di kalangan ibu-ibu karena suaminya 'jajan'," jelasnya.
Maka dari itu, kata Bagus, diperlukan adanya deteksi dini. Bukan hanya mencari kasusnya lalu diobati, tapi juga dimulai dari sebelum seseorang terinfeksi HIV/AIDS.
Sebelumnya diberitakan bahwa kalangan ibu rumah tangga sangat rentan menjadi sasaran penularan HIV/AIDS.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung sejak tahun 1991 hingga Desember 2021, terdapat 5.843 kasus HIV/AIDS. Sedangkan estimasi angka orang dengan HIV (ODHIV) sebanyak 10.871 kasus.
Ketua Pokja Pemberdayaan Masyarakat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung, Yunimar Mulyana menyampaikan, dari 5.843 kasus HIV/AIDS yang sudah diketahui, sebanyak 11,11 persennya berasal dari kalangan ibu rumah tangga.
"Ini menjadi PR kita agar para ibu mau memeriksakan dirinya. Bahkan, di Kota Bandung juga ada anak yang terjangkit HIV sekaligus juga terkena stunting karena ibunya tidak mau diperiksa dan minum obat," ujar Yunimar saat seminar PPIA Menuju Indonesia Emas Tahun 2045 di Gedung Graha Binangkit, Sabtu (4/3).
Yunimar berharap para ibu hamil penyintas HIV/AIDS minimal mau meminum obat antiretroviral (ARV).
"Kemarin yang kita dapatkan itu, ibunya tidak mau minum obat sehingga anaknya tertular," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/edukasi-tentang-hivaids.jpg)