Museum Masjid Raya Al Jabbar akan Dilengkapi Konten Islami, Dibuka Februari 2022
Pembuatan konten digital berteknologi tinggi untuk museum di Masjid Raya Al Jabbar memiliki nilai sampai Rp 14,5 miliar.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Januar Pribadi Hamel
Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pembuatan konten digital berteknologi tinggi untuk museum di Masjid Raya Al Jabbar memiliki nilai sampai Rp 14,5 miliar.
Museum dan Ruang Pameran yang disebut Ma'radh ini segera dibuka untuk umum pada Februari 2023 sehingga menciptakan suasana baru dalam wisata religi di Masjid Raya Al Jabbar.
Ma’radh yang berada di lantai dasar Masjid Raya Al Jabbar ini merupakan museum dan ruang pamer berkonten tentang sejarah Islam di dunia, sejarah para nabi, serta sejarah tentang penyebaran agama Islam di Jawa Barat dan Nusantara.
Baca juga: Minat Kunjungi Masjid Raya Al Jabbar Masih Tinggi, Tempat untuk PKL Sedang Disiapkan
Museum ini sarat dengan konten visual aktraktif untuk mengedukasi masyarakat tentang sejarah Islam.
Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang, Bambang Tirtoyuliono, mengatakan awalnya pembuatan konten tersebut dianggarkan sebesar Rp 20 miliar.
Penganggaran pada 2022 ini menjadi komitmen Pemprov Jabar dan DPRD Jabar dalam upaya perampungan Masjid Raya Al Jabbar, termasuk di dalamnya untuk membangun museum.
"Museum itu nilai pagu anggarannya Rp 20 miliar, tetapi yang dikontraktualkan yaitu Rp 14,5 miliar. Prosedur yang ditempuh untuk proses pengadaan barang jasa yaitu melalui lelang di LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah)," kata Bambang di Bandung, Senin (9/1/2023).
Ia mengatakan lelang ini dua kali gagal. Lelang pertama gagal karena tidak banyak yang mendaftar, padahal minimal diikuti tiga peserta lelang. Lelang ke-2 pun gagal karena peserta lelang menawarkan harga di atas pagu yang tidak rasional.
"Berdasarkan pada justifikasi, teknis dilakukan penunjukan terhadap peserta lelang yang ke-1 dan ke-2 yang ikutan. Semua mekanisme itu sudah diatur dalam Perpres. Lalu kontraktual berjalan di bulan Desember, dilakukan audit BPK," katanya.
Ia mengatakan penunjukan langsung ini tidak begitu saja dilakukan. Semuanya sudah melalui peraturan yang berlaku.
"Memang penunjukan langsung, tapi penunjukan langsung itu terhadap peserta yang ikut. Penunjukan ini tidak ujug-ujug menunjuk karena ada sebuah mekanisme yang diatur dalam Perpres," katanya
Ia mengatakan setidaknya ada lima jenis pekerjaan yang dilakukan dalam proyek tersebut, dari mulai pembuatan diorama, sampai maket, juga konten digital. Anggaran tersebut dialokasikan untuk pekerjaan yang cukup banyak.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyampaikan rencana peresmian Museum Al Jabbar pada Februari 2023 agar dipersiapkan dengan matang.
"Dipersiapkan untuk Februari 2023, museum dibuka itu kan harus online," ujarnya.
Gubernur Ridwan Kamil kembali menegaskan, dinamika masa-masa awal Masjid Raya Al Jabbar adalah hal wajar, yang terpenting bagaimana DKM cepat mencari solusi dan memastikan kejadian serupa tidak terulang. (*)
Artikel TribunJabar.id lainnya bisa disimak di GoogleNews.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ruang-pameran-di-masjid-raya-al-jabbar.jpg)