Gempa Bumi di Garut

Warga Kota Tasikmalaya Punya Cara Unik Pantau Kekuatan Gempa, Termasuk Gempa Bumi di Garut Baru Saja

Sejumlah warga Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, memiliki alat ukur unik untuk mengetahui besar kecilnya getaran gempa bumi.

Penulis: Firman Suryaman | Editor: Hermawan Aksan
Dok Ai
Lemari kaca ukir antik milik Ai (57), warga Perumahan Baitul Marhamah, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, menjadi alat ukur unik kekuatan guncangan gempa. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar Firman Suryaman

TRIBUNJABAR.ID, TASIKMALAYA - Sejumlah warga Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, memiliki alat ukur unik untuk mengetahui besar kecilnya getaran gempa bumi.

Alat ukur tersebut tak lain adalah lemari kaca yang menjadi perlengkapan rumah selama ini.

Seperti saat gempa bumi yang terjadi pada Sabtu (3/12/2022) sore, sejumlah ibu rumah tangga langsung memantau kondisi lemari.

"Saya lihat lemari kaca saya bergetar. Kacanya berbunyi. Tapi tidak kuat. Berarti guncangannya pun tidak terlalu kuat," kata Ai (57), warga Perumahan Baitul Marhamah, Kecamatan Bungursari.

Baca juga: Gempa Bumi Kagetkan Warga Palabuhanratu Sukabumi, Penonton dan Pemain Futsal Berhamburan dari GOR

Ia mengungkapkan, sejak terjadi gempa besar di Tasikmalaya tahun 2009, yang menimbulkan puluhan korban jiwa, lemari kaca ukir antik miliknya menjadi parameter besar tidaknya kekuatan gempa.

"Saat itu lemari ukir kaca jadul itu bergoyang-goyang dengan gemericik kaca yang cukup keras."

"Kami sekeluarga langsung keluar, khawatir rumah ambruk," ujar Ai.

Sejak saat itu, kata Ai, jika gempa muncul, ia selalu memantau goyangan lemari jati buatan tahun 70-an miliknya tersebut.

"Sejak gempa kuat tahun 2009, tidak pernah ada lagi gempa sekuat itu."

"Tapi tetap saja, jika muncul gempa, kami selalu waspada," ujar Ai.

Hal senada diungkapkan, Asih (55), warga Jalan Argasari.

"Lemari kaca saya besar dan tinggi tapi tipis, dan selalu jadi patokan besarnya gempa," katanya.

Jika gemericik kaca lemari cukup kuat, ia bersama keluarganya langsung keluar karena khawatir terjadi hal buruk.

"Saat gempa barusan, kami cukup tenang sambil berdoa, karena bunyi gemericik kaca lemari tidak terlalu kuat," ujar Asih. (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved