Selasa, 2 Juni 2026

Bahas Masa Depan Ekonomi Dunia, Garcombs 2022 Dihadiri Peniliti Dari Tujuh Negara

(Garcombs) 2022 yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran (Unpad) membahas ekonomi dunia yang dihadiri tujuh negara

Tayang:
Editor: Siti Fatimah
istimewa
Gelaran Garcombs 2022 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kompleksitas tantangan dan beragam disrupsi yang terjadi saat ini, justru menjadi peluang bagi Indonesia untuk membangkitkan industrinya sekaligus membangun resiliensi dari negara ini. Salah satunya melalui optimalisasi sumber daya mineral, seperti nikel yang menjadi bahan baku industri baterai.

Demikian terungkap dalam Konferensi Internasional The Global Advanced Research Conference on Management and Business Studies (Garcombs) 2022 yang digelar Program Studi Doktor Ilmu Manajemen (DIM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran (Unpad), akhir pekan lalu.

Professor International Economics at the Osnabruck University of Applied Science, Jerman Prof. Dr. Peter Mayer mengatakan saat ini kita tengah hidup dalam era disrupsi. Diperkirakan masih akan ada gangguan lain yang akan datang sehingga membangun ketahanan merupakan hal yang krusial.

Baca juga: Hadiri WEFAM 2022, Menko Airlangga Ajak Negara-negara G20 Ikut Dukung Jaga Stabilitas Ekonomi Dunia

Ancaman krisis yang saat ini dihadapi, menurutnya, justru menjadi peluang emas bagi Indonesia untuk membangkitkan industrinya mengingat negara ini memiliki bahan baku mineral yang sangat dibutuhkan untuk mendukung transisi energi.

Namun, untuk mengoptimalkan peluang tersebut Indonesia harus berkolaborasi dengan berbagai perusahaan dari negara lain untuk melakukannya

“Saat ini banyak perusahaan di Jerman dan negara lainnya tengah mereorinetasi tujuan investasinya dari China. Indonesia perlu berkolaborasi untuk hal ini,” ujarnya

Peter mengemukakan ditengah kompleksitas gangguan saat ini, resiliensi merupakan karakteristik kunci yang butuhkan untuk ekonomi dan bisnis. Dimulai dari level individu, industri atau perusahaan, hingga masyarakat.

Adapun dimensi dari resiliensi yang harus menjadi perhatian adalah situasi sosial dan ekonomi, geopolitik, dimensi hijau, dan dimensi digital.

“Kita harus memiliki masyarakat yang resiliens. Jika ekonomi dan sistem sosial fragile maka kita tidak akan bisa bertahan ketika dihadapkan dengan gangguan ekonomi makro dan volatilitas. Maka tugas pertama adalah melihat instabilitas, risiko, serta kondisi sosial dan ekonomi,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Perindsutrian Agus Gumiwang mengatakan ekonomi sirkular merupakan langkah yang tepat untuk mendukung keberlangsungan proses produksi.

Efisiensi sumber daya bahan baku diperlukan untuk menghindari eksploitasi sumber daya alam. Dipaparkan, dengan jumlah penduduk yang mencapai 268 juta jiwa, Indonesia menghasilkan 67,8 juta ton sampah

“Jika konsep ekonomi sirkular tidak diimplementasikan, kita menghadapi menipisnya sumber daya alam, krisis iklim, dan degradasi lingkungan. Oleh karena itu Indonesia mengadaposi srikular ekonomi dan mencantumkan dalam RPJMN sebagai prioritas nasional dengan tujuan pengamanan ekonomi dan pembangunan rendah karbon untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan,” katanya.

Garcombs 2022

Ratusan akademisi dari tujuh negara terlibat pada konferensi internasional Garcombs dengan tema Rethinking and Creating Resilience to Enhance Industry and Business Sustainability” yang digelar secara hybrid dari Hotel Savoy Homann.

Hadir memberikan keynote speaker Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Professor International Economics at the Osnabruck University of Applied Science, Jerman Prof. Dr. Peter Mayer.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved