Senin, 1 Juni 2026

Bandung Rawan Kebakaran, Hanya 8 Hidran yang Berfungsi, Terjadi Satu Kali Kebakaran Setiap Dua Hari

Data menyesakkan diungkapkan Plt Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana  (Diskar PB) Kota Bandung, Gungun Sumaryana, Kamis (10/11).

Tayang:
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Januar Pribadi Hamel
tangkapan layar video
Kebakaran yang menghanguskan puluhan lapak di Pasar Induk Caringin, Kota Bandung, Kamis (10/11/2022), terekam video amatir. 

TRIBUNJABAR.ID - Data menyesakkan diungkapkan Plt Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana  (Diskar PB) Kota Bandung, Gungun Sumaryana, Kamis (10/11). Dari 262 hidran yang ada di Kota Bandung ternyata hanya delapan yang masih berfungsi. Dari delapan ini tak semua biasa dipergunakan.

"Hanya empat hidran yang biasa dipakai, yakni hidran di jalan Supratman, Kordon, Dago, dan Jalan Baladewa," ujar Gungun saat dihubungi melalui telepon, Kamis (10/11).

Hanya sedikitnya hidran yang bisa berfungsi dengan baik ini mengkhawatirkan mengingat tingginya angka peristiwa kebakaran di Kota Bandung.

Tahun ini, sebanyak 169 peristiwa kebakaran terjadi hingga pertengahan November. Angkanya bahkan hampir menyusul tahun lalu, 182 kasus, atau rata-rata satu kebakaran setiap dua hari.

Baca juga: Puslabfor Mabes Polri Cek Lokasi Kebakaran Gedung Bappelitbang, Polisi Sudah Periksa 6 Saksi

Tak hanya musim kemarau, kebakaran juga terjadi di musim penghujan. Sebagian terjadi karena hubungan arus pendek listrik, sebagian lagi karena ledakan tabung gas, atau sebab lainnya seperti yang terjadi di Gedung Bappelitbang di Kompleks Balai Kota Bandung, 7 November.

Gungun mengatakan ada banyak faktor yang membuat mayoritas hidran di Kota Bandung tidak berfungsi. Mulai dari debit airnya yang kecil karena sudah menjadi air bersih, hingga sambungan atau instalasi penyalurannya yang berbeda dari hidran ke selang yang biasa digunakan pemadam.

"Memang kita juga harus menyesuaikan sambungan atau instalasi penyalurannya dengan yang ada di PDAM. Kedua, kita juga harus cek debit airnya," ucapnya.

Selain debit airnya yang kecil, hidran yang sudah dialiri oleh air bersih juga tak bisa mereka pergunakan karena sayang jika dipakai untuk memadamkan api.

"Kalau isinya air baku tentu bisa kita pakai untuk membantu pemadaman. Tapi, kalau air bersih, kan, itu untuk konsumsi sehari-hari," ujarnya.

Idealnya, menurut Gungun, hidran setidaknya ada di wilayah objek vital dan area publik lainnya.

"Seperti di kawasan Balai Kota Bandung, karena di situ ada hotel dan mal, kemudian di dekat rumah sakit, atau dekat pasar. Idealnya di sana ada hidran," katanya.

Untuk di kawasan permukiman padat, ujar Gungun, pihaknya sudah melakukan inovasi dengan menghadirkan sprinkler warga atau alat pemadam api portable bertenaga motor untuk menangani kebakaran dini.

"Itu bisa dimanfaatkan warga saat terjadi kebakaran, karena alat itu tekanannya sudah sekitar dua bar," ucapnya.

Tahun ini, kata dia, ada 20 titik yang sudah dipasang sprinkler. Tahun depan, rencana akan dipasang lagi hingga 200 titik yang akan di pasang di kawasan penduduk.

"Nanti ada perhitungan skala prioritasnya, wilayah mana yang akan duluan diberikan sprinkler," katanya.

Ke-20 sprinkler tersebut, ujar Gungun, sudah disebar di 19 kelurahan. Para ketua RT, RW dan relawan yang mendapatkan sprinkler sudah diajarkan cara penggunaannya oleh petugas Diskar PB.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved