Jumat, 10 April 2026

Bedah Buku Nicotine War Mengulas Makna di Balik Kampanye Anti-tembakau

Bedah buku Nicotine War karya Hamda Hamilton digelar Prodi Ilmu Antropologi Unpad bersama Komunitas Kretek, di Fisip Unpad, belum lama ini.

Editor: Mega Nugraha
Istimewa
Bedah buku Nicotine War karya Hamda Hamilton digelar Prodi Ilmu Antropologi Unpad bersama Komunitas Kretek, di Fisip Unpad, belum lama ini. 

TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG- Bedah buku Nicotine War karya Hamda Hamilton digelar Prodi Ilmu Antropologi Unpad bersama Komunitas Kretek, di Fisip Unpad, belum lama ini.

Dalam kajian tersebut, Abhisam Demosa selaku Koordinator Komunitas Kretek Indonesia memaparkan, kampanye anti rokok yang dibedah di buku Nicotine War, menguliti kepentingan bisnis farnasu dan dikenal sebagai nicotine replacement therapy dalam agenda pengendalian tembakau.

Peran melawan nikotin yang diulas Wanda Hamilton, kata dia, sudah nyaris dimenangkan oleh korporasi farmasi melalui kampanye global anti-tembakau yang didukung WHO, lembaga kesehatan publik, pemerintahan dan NGO anti tembakau

"Isu personal dan legal (tentang merokok) telah diubah menjadi kesehatan publik. Tembakau telah dinyatakan oleh mereka (kelompok antirokok) sebagai musuh bersama dan harus segera diperangi," katanya.

Baca juga: Pemkab Sumedang Akan Latih Petani dan Pengolah Tembakau Agar Mampu Pasarkan Melalui Jualan Online

Bagi Abhisam, isu anti-rokok selaras dengan kepentingan korporasi untuk menaikkan cukai rokok setinggi tingginya.

"Kenaikan cukai rokok sejatinya sebagai mata tombak untuk menghancurkan industri kretek nasional. Selain itu, tujuan besarnya untuk membentangkan karpet merah bagi kepentingan bisnis nikotin, MNC farmasi, dan MNC tembakau di Indonesia," kata dia.

Pengajar Departemen Antropologi Unpad sitas Padjajaran, Dede Mulyanto menggunakan pendekatan neokolonialisme dalam memahami Nicotine War.

Menurutnya, neokolonialisme itu salah satu cara untuk menguasai kapitalisme global. Dede menambahkan bahwa kapitalisme itu lahir dari eksploitasi tumbuhan yang memiliki pasar

Indonesia acap kali hampa dalam menemukan solusi atas berbagai permasalahan. Masyarakat Indonesia menjadi minder dan rendah diri bahkan, lebih berbahayanya lagi, menelan mentah-mentah kebenaran yang dibuat korporasi farmasi.

"Obat berhenti merokok merupakan bentuk dari disorder mental yang baru. Merokok atau tidak merokok bukan permasalahan utama. Sebab, yang lebih utama, kretek adalah produk Indonesia dengan bahan baku yang kita miliki hingga saat ini. Itu yang mestinya dijaga.

Senada dengan Abhisam dan Dede, Pengajar Departemen Sosiologi UGM, AB Widyanta menegaskan bahwa pentingnya Nicotine War untuk dikaji kembali.

"Buku ini merupakan hasil riset ekonomi politik kritis dari Wanda Hamilton terhadap dominasi penuh muslihat yang gencar dilakukan oleh korporasi medis dan farmasi dalam pertarungan politik bisnis internasional," ujar AB.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved