Dedi Mulyadi Jawab Netizen Soal Tak Pakai Iket ke Pengadilan dan Dianggap Tak Pernah Ada di Rumah
Hingga kini masih banyak netizen atau warganet yang penasaran dengan sejumlah teka-teki terkait kedatangan Kang Dedi Mulyadi
TRIBUNJABAR.ID - Hingga kini masih banyak netizen atau warganet yang penasaran dengan sejumlah teka-teki terkait kedatangan Kang Dedi Mulyadi ke Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Purwakarta untuk menghadiri sidang gugatan cerai yang dilayangkan oleh istrinya Anne Ratna Mustika.
Salah satu pertanyaan yang kerap ditanyakan saat ini adalah penampilan Kang Dedi Mulyadi yang datang ke PA tidak menggunakan iket. Padahal sejak lama ia identik dengan iket putih di kepalanya.
“Banyak yang nanya saya ke pengadilan agama kok gak pakai iket? Ini harus dijelasin,” ujar Kang Dedi Mulyadi.
Kang Dedi menjelaskan ada filosofi Sunda ‘cing caringcing pageuh kancing, set saringset pageuh iket’. Kalimat cing caringcing pageuh kancing memiliki arti dalam Bahasa Indonesia berarti mengikat kancing dengan kencang.
Kancing di sini, kata Kang Dedi, melambangkan feminim yang mendominasi sifat perempuan. Sehingga wanita Sunda selalu memakai kancing dengan kencang hingga bagian atas dada untuk menjaga kehormatannya.
“Sehingga perempuan Sunda itu kekuatannya di rasa dan hati. Dari kekuatan hati ini melahirkan kekuatan produktivitas,” katanya.
Baca juga: Dedi Mulyadi:15 Tahun Pimpin Purwakarta Saya Tak Pernah Gugat, Istri Jadi Bupati Saya Digugat Cerai
Ia mencontohkan, perempuan pandai memasak tanpa takaran dan selalu enak. Bahkan masakan seorang ibu kerap menjadi makanan terenak di seluruh dunia oleh anak-anaknya.
Tidak hanya soal masakan, dalam pengelolaan ekonomi keluarga juga perempuan akan melakukannya dengan hati. Contohnya ibu kandung Kang Dedi yang berhasil membuat sembilan anaknya menjadi sarjana tanpa menjual barang atau menggadaikan sawah. Padahal saat itu mereka hidup dalam ekonomi yang sangat sederhana.
“Maka kekuatan itu lahir dari hati, kekuatan perempuan di Sunda terletak pada hatinya. Kalau hatinya lembut, selalu menerima, sabar, pandai bersyukur, jangankan laki-lakinya baik, laki-lakinya bandel saja mampu diredam,” ucapnya.
Sementara arti set saringset pageuh iket adalah memakai iket atau ikat kepala khas Sunda dengan kencang. Iket tersebut diikat dengan kencang agar isi kepala bisa fokus sekaligus sebagai lambang kehormatan dan kepemimpinan.
Maka sejak menjabat sebagai Wakil Bupati Purwakarta pada tahun 2003, Kang Dedi sudah mulai memakai iket. Hal tersebut terjadi begitu saja, alamiah dan tanpa ada orang yang menyuruh atau memaksanya.
“Karena ke mana-mana pakai iket saya dapat gelar si cepot. Kemudian waktu itu ada juga yang mengatakan pakai iket musyrik, kafir, ditambah lagi saya ucapkan sampurasun, tapi saya mah sudah biasa dengan itu semua dimusyrikin, dikafirin, gak apa-apa. Karena kemusyrikan dan kekafiran itu Allah yang menentukan, bukan orang. Gak bisa nilai orang hanya dari kulitnya saja,” ucap Kang Dedi.
Bahkan saat itu karena kerap memakai iket, Kang Dedi dianggap pejabat yang melanggar etika birokrasi.
Kebiasaanya yang lain adalah sejak menjabat Wakil Bupati ia kerap berkeliling dan tidur di rumah warga. Selain memakai iket, ia pun mendapat panggilan Akang oleh masyarakat agar lebih dekat dan tak ada sekat antara pemimpin dengan rakyatnya.
“Dan apa yang terjadi saat ini iket menjadi trend, hampir semua pejabat Sunda pakai iket. Akang juga trend, hampir semua pejabat Sunda dipanggil akang. Sampai yang umurnya 60 pun ingin dipanggil akang. Akhirnya melekatlah nama Kang Dedi,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/dedi-mulyadi15-tahun-pimpin-purwakarta-saya-tak-pernah-gugat-istri-jadi-bupati-saya-digugat-cerai.jpg)